Di usia 73 tahun, Muhammad Ainun Nadjib bukan sekadar tokoh—ia adalah ruang teduh yang terus bernapas di tengah bangsa yang sering kehilangan napas.
Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID
Tujuh puluh tiga tahun bukan angka biasa bagi Muhammad Ainun Nadjib. Bagi mereka yang pernah duduk dalam lingkaran Maiyah—mendengar suaranya mengurai kerumitan Ibn Arabi seperti membuka jendela, bukan pintu baja—angka itu terasa lebih seperti kedalaman daripada usia.
Kita tidak bisa memahami Cak Nun hanya dengan kacamata akademis. Kita perlu sesuatu yang lebih sunyi dari itu.
Ketika Ilmu Bukan dari Teks
Suatu malam pada 2002, di tepi Sungai Nil, Kairo, seorang alim bernama Muhammad Nursamad Kamba—yang kelak dikenal sebagai Buya Kamba—terdiam. Ia sedang menemani Cak Nun berbincang, dan perbincangan itu menyentuh wilayah yang tidak sembarangan: pemikiran Ibn Arabi, kitab Al-Futuhat al-Makkiyah, kerumitan sufisme yang bahkan membuat sebagian sarjah tasawuf berhenti di tengah jalan.
Cak Nun mengurainya dengan jernih. Padahal ia mengakui tidak pernah memiliki satu pun kitab Ibn Arabi, apalagi mendarasnya.
Buya Kamba mencatat kesaksian itu sebagai bukti sesuatu yang dalam tradisi keilmuan Islam disebut ilmu laduni—pengetahuan yang tidak datang dari teks di atas kertas, melainkan dari sumber yang lebih dalam. Cak Nun tidak membaca halaman. Ia membaca semesta.
Danau di Tengah Banjir Amarah
Dari keluasan batin itulah Maiyah lahir. Bukan organisasi, bukan ormas, bukan partai. Maiyah adalah persahabatan yang dilembagakan dalam keikhlasan—mengambil ruh momentum hijrah Nabi, memberi ruang berteduh bagi masyarakat yang kerap kehabisan ruang.
Forum-forum Maiyah menjelma seperti danau serapan di musim banjir. Ia menampung limpahan amarah dan kebencian sosial yang, jika dibiarkan menggenang, bisa meruntuhkan tanggul-tanggul kebersamaan bangsa. Di sana, rakyat kecil belajar kearifan bukan dari ceramah sepihak, melainkan dari percakapan yang tulus—belajar merayakan bahagia meski himpitan hidup terus mencekik.
Maiyah turun seperti pasukan penjinak bom: ia tidak meledakkan masalah, ia mendinginkannya.
Cincin dari Bangkalan
Ada jejak sejarah yang tidak banyak dibicarakan, namun terasa sangat hidup dalam roh pergerakan Cak Nun. Sebelum wafat, Syekhona Kholil Bangkalan—mahaguru para ulama besar Nusantara—mewariskan pusaka kepada empat santri pilihannya. KH Hasyim Asy’ari menerima tongkat dan kitab. KH Ahmad Dahlan mengemban amanahnya sendiri. KH Romly Tamim membawa pulang pisang emas. Dan KH Imam Zahid—kakek buyut Cak Nun dari jalur ayahnya, Muhammad Nadjib—menerima sebuah cincin.
Bukan cincin biasa dalam tradisi pesantren Jawa Timur. Berdasarkan sejarah lisan ulama setempat, cincin itu menduduki hierarki tertinggi di antara keempat pusaka—bukan sebagai perhiasan, melainkan sebagai simbol sanad spiritual. Bentuknya yang bulat menyimpan makna: ikatan tak pernah putus, cinta tanpa ujung, perputaran yang abadi.
Sanad itulah yang kemudian mewujud menjadi roh Maiyah—wadah yang merangkul semua golongan tanpa sekat.
Satu Lingkaran, Tiga Makna
Filosofi cincin pusaka itu kelak mengejawantah dalam simbol “Nun” yang dirancang desainer grafis Harianto. Visual melingkar itu menyimpan tiga lapis makna: nama panggilan yang lekat di hati masyarakat, manifestasi cincin cinta warisan Syekhona Kholil yang mendamaikan perbedaan, dan pengingat tentang sangkan paran—asal dan tujuan manusia—yang terangkum dalam inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Sebuah simbol yang tidak sekadar cantik, melainkan berbicara.
Jalan Sunyi yang Terus Ditempuh
Memasuki usia ke-73, Cak Nun masih berjalan di jalan yang sama—jalan sunyi yang tidak pernah ia tinggalkan. Ia tidak mengejar penghargaan. Niatnya bukan membangun warisan untuk dikenang, melainkan mempraktikkan cinta yang murni kepada Sang Khalik, lalu membiarkan cinta itu mengalir ke mana ia perlu mengalir.
Di tengah dunia empirik yang kerap menipu—di mana riuh pendapat menggantikan kedalaman berpikir, dan kencangnya arus informasi justru membuat orang makin kehilangan pijakan—bangsa ini terus membutuhkan ruang seperti Maiyah. Ruang yang tidak menghakimi, tidak menggurui, hanya mengingatkan: bahwa kelembutan batin dan kewarasan nalar adalah dua hal yang tidak boleh kita lepaskan secara bersamaan.
Seperti cincin yang tak pernah putus, Cak Nun terus berputar—bukan karena ia tidak lelah, melainkan karena cinta itu memang tidak mengenal henti.***
*Artikel ini ditulis berdasarkan sumber oral history ulama Jawa Timur dan kesaksian Buya Muhammad Nursamad Kamba.






Tinggalkan Balasan