Dua puluh tujuh tahun setelah jutaan rakyat turun ke jalan, seorang saksi mata kunci dari dalam Istana Presiden menyebut momen bersejarah itu dengan dua kata: omong kosong.


KOSONGSATU.ID – Lima menit sebelum pertemuan bersejarah itu dimulai, dua budayawan berjabat tangan di luar ruangan. Emha Ainun Nadjib—Cak Nun—dan Nurcholish Madjid saling berjanji: setelah Soeharto turun, keduanya tak akan menyentuh jabatan apapun. Janji itu dipegang. Tapi janji yang lebih besar—tentang Indonesia yang lebih bersih—tidak.

Tanggal 19 Mei 1998. Cak Nun hadir bersama sejumlah tokoh nasional lainnya di Istana Presiden, dua hari sebelum penguasa Orde Baru resmi menyatakan mundur. Suasana di dalam istana jauh dari kesan genting: perbincangan berjalan santai, tanpa ketegangan berarti, hingga 16 bom yang tersebar di berbagai titik vital sekitar istana tak perlu diledakkan. Kesepakatan sesungguhnya telah diketuk malam sebelumnya. Apa yang tersisa hanyalah prosesi—sebuah resepsi kekuasaan yang akad pokoknya sudah ditandatangani di tempat lain, oleh tangan-tangan yang berbeda.

Dari titik itulah, menurut Cak Nun, akar kemunafikan mulai tumbuh.

Ketika Reformasi Kehilangan Maknanya

Satu masalah krusial yang tidak pernah diselesaikan adalah formula peralihan kekuasaan yang disepakati bersama. Absennya formula itulah yang menjadikan Reformasi 1998 bukan sekadar gagal—melainkan palsu dan bergelimang kemunafikan.

Para penumpang gelap segera mengisi kekosongan itu. Elite lama bertahan di lingkar kekuasaan dengan wajah baru; sebagian aktivis yang dulu berteriak di jalanan sibuk mengejar kursi kementerian dan komisariat BUMN. Setelah Soeharto turun, Cak Nun justru kecewa menyaksikan orang-orang yang pernah berjuang bersamanya lebih sibuk mengejar jabatan daripada benar-benar memperjuangkan rakyat.

Bagi seorang penyair yang terbiasa membedah realitas dengan diksi yang tepat, fenomena ini punya nama yang sangat jelas. “Jauh lebih susah mengurusi seorang munafik reformasi dibanding 100 orang kafir Orde Baru,” kata Cak Nun, dalam salah satu kesaksiannya yang paling diingat publik.