Dalam pandangannya, karakter kemunafikan mengizinkan yang putih menjadi merah, merah menjadi hijau, hijau menjadi biru—tanpa batas, tanpa beban. Demokrasi yang lahir bukan mencabut oligarki; ia hanya memberinya kostum baru. Kartel ekonomi, mafia birokrasi, dan praktik transaksional justru semakin leluasa bergerak di bawah panji-panji kebebasan.
Saksi yang Tidak Memilih Diam
Cak Nun adalah salah satu tokoh yang berkirim surat kepada Soeharto pada 16 Mei 1998, meminta penguasa 32 tahun itu mau mundur. Tiga hari kemudian, ia hadir dalam pertemuan di istana bersama tokoh-tokoh nasional lain—dari Gus Dur, Nurcholish Madjid, hingga sejumlah pemimpin ormas Islam terkemuka. Ia bukan pengamat dari kejauhan. Ia ada di dalam ruangan itu, menghirup udara yang sama dengan orang-orang yang sedang memutuskan nasib sebuah bangsa.
Justru karena itulah kesaksiannya terasa seperti tamparan. Bukan karena ia berlebihan, melainkan karena ia tahu persis apa yang terjadi—dan apa yang tidak terjadi.
Setelah peristiwa itu, Cak Nun memilih jalan sunyi: menarik diri dari pusaran politik, membangun komunitas Maiyah, dan mendalami perenungan tentang ketatanegaraan yang ia sebut sebagai “Konstitusi Langit.” Bukan pelarian, melainkan konsistensi—melanjutkan janji jabat tangan yang ia buat lima menit sebelum memasuki istana itu.
Konstitusi Langit dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Gagasan Reformasi Tata Negara Sejati yang diusung Cak Nun bertumpu pada satu prinsip sederhana yang sulit dijalankan: negara harus dikembalikan pada fungsi aslinya—melindungi, melayani, dan memuliakan rakyat, bukan memfasilitasi akumulasi kuasa segelintir orang.
Itu berarti sistem hukum yang tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Parlemen yang menjadi corong rakyat, bukan stempel oligarki. Eksekutif yang bergerak untuk pelayanan publik, bukan untuk melanggengkan dirinya sendiri. Ekonomi yang berpihak pada kemandirian bersama, bukan memanjakan konglomerasi.
Impian itu bukan baru. Yang membuat kesaksian Cak Nun terasa menusuk adalah bahwa impian itu diucapkan oleh seseorang yang hadir langsung di momen ketika impian serupa pertama kali dikhianati.



Tinggalkan Balasan