Ekologi Spiritual yang Hidup

Dari Reba lahir apa yang dapat disebut sebagai ekologi spiritual: relasi manusia-alam yang dijaga oleh makna simbolik dan kepercayaan. Ketika uwi diyakini mengandung roh leluhur, praktik budidayanya pun dilakukan dengan hormat. Eksploitasi berlebihan dipandang sebagai pelanggaran etika spiritual—sebuah rem ekologis yang efektif tanpa perlu instrumen hukum modern.

Budidaya uwi di Binawali menyimpan kebijaksanaan teknis yang diwariskan turun-temurun: lubang tanam 20 x 20 sentimeter, tiga umbi per lubang, dan ladu sebagai penyangga rambatan. Teknik ini menyatu dengan prinsip keberlanjutan—cukup untuk hidup, tidak berlebihan.

Struktur adat memperkuatnya. Tokoh mosalaki menentukan waktu tanam, pelaksanaan Reba, hingga sanksi bagi pelanggaran ekologis. Norma adat tana membatasi eksploitasi dan mengatur akses lahan. Uwi, dengan demikian, bukan komoditas semata, melainkan identitas komunitas.

Retak di Tengah Zaman

Namun, keseimbangan itu mulai terancam. Sistem pemerintahan formal kerap berjalan tanpa dialog dengan tata kelola adat. Program pertanian modern yang menekankan monokultur, skema bantuan yang seragam, serta pengelolaan lahan yang mengabaikan norma lokal berpotensi menggerus sistem konservasi berbasis adat. “Kadang aturan dari luar tidak tanya dulu ke tokoh adat,” kata seorang mosalaki. “Padahal tanah ini ada aturannya sendiri dari leluhur.”

Ancaman lain datang dari pergeseran generasi. Minat anak muda terhadap budidaya uwi menurun—panen lama, pasar sempit. Komoditas cepat jual lebih menggoda. “Sekarang anak-anak muda tidak mau tanam uwi,” ujar tokoh masyarakat setempat. “Mereka pilih sayur atau jagung.”

Menjaga yang Tumbuh, Menghidupkan yang Diingat

Pelestarian uwi menuntut pendekatan baru: mengawinkan nilai budaya dengan strategi ekonomi kreatif dan teknologi. Bukan untuk mengubah makna, melainkan memperluas kemungkinan—agar uwi tetap hidup di ladang, di piring, dan di ingatan generasi berikutnya.

Di Binawali, Reba mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari angka produksi. Ia tumbuh dari penghormatan pada yang memberi makan pertama kali. Uwi—yang sederhana, sunyi, dan setia—terus mengingatkan: kehidupan bertahan bukan karena dieksploitasi, melainkan karena dimuliakan.***