Di Desa Binawali, uwi bukan sekadar pangan—ia adalah doa yang tumbuh dari tanah dan diwariskan lewat ritual.


KOSONGSATU.ID—Setiap tahun, ketika musim panen tiba, Desa Binawali di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bergerak dalam ritme yang berbeda: ritme syukur, ingatan, dan kesetiaan pada leluhur. Di sanalah tradisi Reba digelar—sebuah perayaan tahunan yang memuliakan uwi sebagai simbol kehidupan, kemakmuran, dan warisan yang tak putus oleh waktu.

Bagi masyarakat Binawali, uwi adalah “roti kehidupan”. Jauh sebelum padi dan jagung dikenal, umbi inilah yang menopang perut dan peradaban. Dalam Reba, syukur dipanjatkan kepada Dewa Zeta Nitu Zale—wujud tertinggi dalam kosmologi setempat—atas kehidupan yang terjaga, panen yang berhasil, dan tanaman yang terlindung dari gangguan hama, mulai dari ulat sagu (doko) hingga tikus. Perayaan berlangsung berhari-hari dan melibatkan seluruh komunitas adat, mengikat kembali hubungan antargenerasi dalam satu lingkaran kebersamaan.

Tanaman Suci dan Ingatan Kolektif

Reba bukan sekadar ritual panen. Ia adalah mekanisme sosial yang menjaga agrobiodiversitas melalui simbol dan tabu. Uwi hadir sebagai tanaman suci—dilindungi bukan oleh pagar, melainkan oleh makna. Status sakral ini menanamkan kesadaran ekologis: apa yang dimuliakan, dirawat; apa yang dirawat, lestari.

Dalam narasi mitologis, Reba dipersonifikasikan sebagai sosok perempuan yang mengorbankan diri demi kesejahteraan sesamanya. Dari pengorbanan itulah kehidupan bertumbuh. Uwi, dalam tafsir ini, melambangkan sumber hidup yang lahir dari pengorbanan suci—sebuah etika ekologis yang menahan manusia dari hasrat mengeksploitasi alam tanpa batas.

Kalender adat mengatur waktu tanam dan panen. Ada larangan mengambil uwi sebelum ritual tertentu—sebuah tabu yang, secara praktis, menciptakan sistem panen berjangka dan menjaga stok pangan. Dalam bahasa setempat, uwi yang dipersembahkan dalam Reba disebut uwi nase: uwi bermartabat tinggi, khusus untuk ritus. Ia menempati posisi terhormat dalam tatanan sosial masyarakat Ngada.