Di Desa Binawali, uwi bukan sekadar pangan—ia adalah doa yang tumbuh dari tanah dan diwariskan lewat ritual.
KOSONGSATU.ID—Setiap tahun, ketika musim panen tiba, Desa Binawali di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bergerak dalam ritme yang berbeda: ritme syukur, ingatan, dan kesetiaan pada leluhur. Di sanalah tradisi Reba digelar—sebuah perayaan tahunan yang memuliakan uwi sebagai simbol kehidupan, kemakmuran, dan warisan yang tak putus oleh waktu.
Bagi masyarakat Binawali, uwi adalah “roti kehidupan”. Jauh sebelum padi dan jagung dikenal, umbi inilah yang menopang perut dan peradaban. Dalam Reba, syukur dipanjatkan kepada Dewa Zeta Nitu Zale—wujud tertinggi dalam kosmologi setempat—atas kehidupan yang terjaga, panen yang berhasil, dan tanaman yang terlindung dari gangguan hama, mulai dari ulat sagu (doko) hingga tikus. Perayaan berlangsung berhari-hari dan melibatkan seluruh komunitas adat, mengikat kembali hubungan antargenerasi dalam satu lingkaran kebersamaan.
Tanaman Suci dan Ingatan Kolektif
Reba bukan sekadar ritual panen. Ia adalah mekanisme sosial yang menjaga agrobiodiversitas melalui simbol dan tabu. Uwi hadir sebagai tanaman suci—dilindungi bukan oleh pagar, melainkan oleh makna. Status sakral ini menanamkan kesadaran ekologis: apa yang dimuliakan, dirawat; apa yang dirawat, lestari.
Dalam narasi mitologis, Reba dipersonifikasikan sebagai sosok perempuan yang mengorbankan diri demi kesejahteraan sesamanya. Dari pengorbanan itulah kehidupan bertumbuh. Uwi, dalam tafsir ini, melambangkan sumber hidup yang lahir dari pengorbanan suci—sebuah etika ekologis yang menahan manusia dari hasrat mengeksploitasi alam tanpa batas.
Kalender adat mengatur waktu tanam dan panen. Ada larangan mengambil uwi sebelum ritual tertentu—sebuah tabu yang, secara praktis, menciptakan sistem panen berjangka dan menjaga stok pangan. Dalam bahasa setempat, uwi yang dipersembahkan dalam Reba disebut uwi nase: uwi bermartabat tinggi, khusus untuk ritus. Ia menempati posisi terhormat dalam tatanan sosial masyarakat Ngada.

Tiga Tahap Reba
Reba dijalankan dalam tiga tahap yang berurutan, masing-masing mengikat makna spiritual dan sosial.
Tahap pertama, Kobe Dheke, adalah momen pulang. Seluruh anggota keluarga kembali ke rumah induk (sa’o pu’u) untuk menghormati leluhur asli. Pulang bukan sekadar fisik; ia adalah pengakuan bahwa kehidupan hari ini berdiri di atas perlindungan masa lalu.
Tahap kedua, Kobe Dhoi, ditandai dengan pengangkatan uwi disertai teriakan bhe uwi yang diulang tiga kali. Uwi tampil dalam bentuk koba—batang menjalar—yang dililitkan pada su’aatau tofa, lalu diletakkan di ruang sakral rumah induk. Di tahap ini, tarian o uwi dimulai: lingkaran manusia di tengah kampung (kisa nata), digerakkan oleh seruan wuku uwi yang memanggil kelimpahan:
“Uwi sebesar gong, setinggi tambur… biarpun disungkur babi hutan, ubinya tak habis; biarpun digali babi landak, ubinya tetap ada.”
Lingkaran itu bukan hanya tarian; ia adalah metafora siklus hidup.
Tahap ketiga, Kobe Su’i, menjadi penutup. Makan bersama digelar di loka—tugu batu suku—sebagai pernyataan kedaulatan adat. Setiap rumah adat membawa su’a uwi, nasi (maki), daging (sui), dan minuman moke. Jamuan ini menegaskan bahwa pangan adalah urusan kolektif, bukan individual.
Ekologi Spiritual yang Hidup
Dari Reba lahir apa yang dapat disebut sebagai ekologi spiritual: relasi manusia-alam yang dijaga oleh makna simbolik dan kepercayaan. Ketika uwi diyakini mengandung roh leluhur, praktik budidayanya pun dilakukan dengan hormat. Eksploitasi berlebihan dipandang sebagai pelanggaran etika spiritual—sebuah rem ekologis yang efektif tanpa perlu instrumen hukum modern.
Budidaya uwi di Binawali menyimpan kebijaksanaan teknis yang diwariskan turun-temurun: lubang tanam 20 x 20 sentimeter, tiga umbi per lubang, dan ladu sebagai penyangga rambatan. Teknik ini menyatu dengan prinsip keberlanjutan—cukup untuk hidup, tidak berlebihan.
Struktur adat memperkuatnya. Tokoh mosalaki menentukan waktu tanam, pelaksanaan Reba, hingga sanksi bagi pelanggaran ekologis. Norma adat tana membatasi eksploitasi dan mengatur akses lahan. Uwi, dengan demikian, bukan komoditas semata, melainkan identitas komunitas.
Retak di Tengah Zaman
Namun, keseimbangan itu mulai terancam. Sistem pemerintahan formal kerap berjalan tanpa dialog dengan tata kelola adat. Program pertanian modern yang menekankan monokultur, skema bantuan yang seragam, serta pengelolaan lahan yang mengabaikan norma lokal berpotensi menggerus sistem konservasi berbasis adat. “Kadang aturan dari luar tidak tanya dulu ke tokoh adat,” kata seorang mosalaki. “Padahal tanah ini ada aturannya sendiri dari leluhur.”
Ancaman lain datang dari pergeseran generasi. Minat anak muda terhadap budidaya uwi menurun—panen lama, pasar sempit. Komoditas cepat jual lebih menggoda. “Sekarang anak-anak muda tidak mau tanam uwi,” ujar tokoh masyarakat setempat. “Mereka pilih sayur atau jagung.”
Menjaga yang Tumbuh, Menghidupkan yang Diingat
Pelestarian uwi menuntut pendekatan baru: mengawinkan nilai budaya dengan strategi ekonomi kreatif dan teknologi. Bukan untuk mengubah makna, melainkan memperluas kemungkinan—agar uwi tetap hidup di ladang, di piring, dan di ingatan generasi berikutnya.
Di Binawali, Reba mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari angka produksi. Ia tumbuh dari penghormatan pada yang memberi makan pertama kali. Uwi—yang sederhana, sunyi, dan setia—terus mengingatkan: kehidupan bertahan bukan karena dieksploitasi, melainkan karena dimuliakan.***




Tinggalkan Balasan