Perburuan burung liar untuk kontes kicau memutus rantai makanan di perkotaan. Akibatnya, populasi larva ngengat atau kamitetep meledak dan menyerang rumah warga.

KOSONGSATU.ID – ​Ady Kristanto dari Jakarta Bird Watcher Society menyatakan ledakan hama kamitetep di permukiman warga berkaitan erat dengan tren kicau mania. Hobi ini memicu perburuan burung liar pemakan serangga yang memutus rantai makanan alami di perkotaan.

​Ihwal fenomena ini, Ady menjelaskan bahwa populasi kamitetep biasanya dikendalikan oleh perenjak jawa dan cinenen. Namun, burung tersebut kini menyusut drastis karena diburu untuk memasterkan suara murai batu dalam kontes kicau.

​”Ketika mangsanya semakin banyak tapi predatornya enggak ada, ya akhirnya mereka akan ke ranah manusia, ke dunia manusia,” kata Ady dalam acara Bincang Redaksi ke-73 di Jakarta, Sabtu, 18 Juli 2026.

​Selain itu, hilangnya burung inang ini memicu efek domino bagi spesies wiwik kelabu. Burung pencerna ulat bulu ini kesulitan berkembang biak karena terbiasa menitipkan telurnya di sarang perenjak, sehingga hama ulat makin tak terkendali.

Ilustrasi perburuan burung liar untuk kontes kicau memutus rantai makanan di perkotaan. Akibatnya, populasi larva ngengat atau kamitetep meledak. – AI Generate

​Dampak Kesehatan dan Pencegahan

​Kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Hari Purwanto, menyebut kamitetep hidup dalam kantong pipih dari serat sutera atau debu. Ia menambahkan bahwa rambut serangga ini memicu kulit bentol bagi orang yang alergi.

​Sebelumnya, minimnya lahan hijau di perkotaan juga memaksa hama ini mencari habitat alternatif di dalam rumah. Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Indonesia, Ratna Yuniati, membenarkan bahwa kontak dengan kamitetep bisa memicu ruam kemerahan yang gatal.

​Kelembapan udara saat musim hujan turut mendukung perkembangan larva dan mempercepat penumpukan debu sebagai sumber makanannya. Menghadapi hama ini, warga disarankan rutin membersihkan rumah, memperbaiki sirkulasi udara, hingga menggunakan kapur barus.

​”Reaksi alergi atau pembengkakan pada kulit sensitif ini biasanya akan sembuh sendiri dalam tiga hingga tujuh hari,” kata Ratna.***