Rusia dan Tiongkok mengecam keras serangan AS ke Iran tanpa menurunkan armada.


KOSONGSATU.ID—Dua raksasa geopolitik dunia, Tiongkok dan Rusia, bereaksi keras atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, di balik kecaman diplomatik itu, kedua negara tersebut memilih menahan diri dari intervensi militer langsung.

Tidak ada pengerahan armada tempur untuk membela Teheran dari gempuran Amerika Serikat dan Israel.

​Absennya militer Beijing dan Moskow disebabkan oleh kalkulasi strategis yang matang. Tidak ada pakta pertahanan mutlak yang mewajibkan mereka menerjunkan tentara ke Iran. Rusia justru memanfaatkan momentum perang ini sebagai keuntungan politis guna mengalihkan fokus dan logistik negara Barat dari konflik di Ukraina.

​Sementara itu, Tiongkok memilih memprioritaskan evakuasi warga negaranya dan mengamankan rantai pasok energi komersial. Beijing menghindari konfrontasi fisik langsung dengan kekuatan militer Amerika Serikat.

​Menteri Luar Negeri Tiongkok menyampaikan protes keras terkait operasi tersebut. Ia menilai tindakan menargetkan pemimpin negara berdaulat menyalahi aturan internasional.

​”[Serangan AS-Israel] tidak dapat diterima. Pembunuhan pemimpin negara berdaulat adalah hal yang tidak dapat diterima,” tegas Wang Yi, Menteri Luar Negeri Tiongkok, dalam pernyataan via sambungan telepon bilateral dengan Menlu Rusia pada 2-3 Maret 2026.

​Pihak Rusia juga mengeluarkan pernyataan serupa. Moskow menilai agresi tersebut membawa kawasan Timur Tengah ke jurang kehancuran.

​”Serangan ini adalah tindakan agresi bersenjata yang terencana dan tidak beralasan terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan merdeka. [AS dan Israel] menjerumuskan Timur Tengah ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali,” papar Kementerian Luar Negeri Rusia melalui rilis resmi via Telegram pada 28 Februari 2026.