Artinya, jalan menuju perdamaian tidak bisa sekadar mengandalkan sentimen anti-Amerika atau anti-Israel. Perdamaian sejati membutuhkan jaminan yang dapat diverifikasi dan rasa saling percaya yang tahan uji.
Di sinilah kedewasaan politik kawasan menghadapi ujian terbesarnya. Iran sebenarnya memiliki rekam jejak konseptual yang bisa menjadi fondasi pijakan, seperti inisiatif Hormuz Peace Endeavour (HOPE) yang diluncurkan pada tahun 2019. Inisiatif ini mengedepankan prinsip penghormatan kedaulatan, non-intervensi, keamanan energi bersama, serta peredaan ketegangan sektarian.
Sinyal Positif yang Mulai Terlihat
Rekonsiliasi antara Iran dan Arab Saudi pada Maret 2023—yang ditengahi China—telah memberikan sinyal positif. Kedua negara sepakat memulihkan hubungan diplomatik setelah tujuh tahun putus.
Selain itu, Arab Saudi juga menunjukkan inisiatif untuk memperkuat keamanan maritim di Teluk secara mandiri. Walaupun langkah tersebut belum mencapai garis akhir, arah menuju kemandirian mulai terlihat.
Namun, skeptisisme tetap tinggi. UEA dan Bahrain masih mempertahankan hubungan dekat dengan AS, termasuk menjadi tuan rumah pangkalan militer AS seperti Al Dhafra di UEA dan markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Penasihat kepresidenan UEA, Anwar Gargash, bahkan menyatakan bahwa serangan Iran telah mendorong negaranya untuk melakukan “alignment keamanan yang lebih dalam” dengan Washington.
Gencatan Senjata sebagai Momentum
Pada 7 April 2026, gencatan senjata dua minggu antara Iran dan AS-Israel tercapai setelah mediasi Pakistan. Kesepakatan ini membuka ruang diplomatik bagi negara-negara Teluk untuk memikirkan ulang arsitektur keamanan mereka.
Iran sendiri dilaporkan telah mengajukan rencana perdamaian 10 poin yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dengan sistem pungutan biaya lintas dan pembagian pendapatan dengan Oman . Namun, tuntutan Iran untuk penutupan pangkalan AS di kawasan Teluk masih menjadi ganjalan utama.
Seruan Iran untuk “Teluk Tanpa Israel dan Amerika” kini berada di persimpangan. Apakah ini akan menjadi momentum bagi kawasan untuk mengambil alih kemudi nasib sendiri, atau sekadar retorika yang layu sebelum berkembang?





Tinggalkan Balasan