Tradisi tarawih 23 rakaat berdurasi 13 menit di Blitar bertahan sejak 1907.
KOSONGSATU.ID—Tradisi salat tarawih 23 rakaat berdurasi sekitar 13 menit di Pondok Pesantren Mambaul Hikam (Pondok Mantenan), Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kembali viral di media sosial.
Video pelaksanaannya ramai diperbincangkan sepanjang Ramadan 2026. Namun praktik tersebut bukan tradisi baru.
Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya’uddin Azzamzami atau Gus Dliya’, menegaskan tarawih kilat itu sudah berlangsung sejak 1907, pada masa penjajah Belanda.
“Salat tarawih ini dimulai dari Mbah Yauqul Ghofur, sejak berdirinya pondok ini. Beliau yang mencetuskan tarawih cepat ini,” ujar Gus Dliya’ seperti dikutip Selasa (24/2/2026).
Tradisi itu dicetuskan oleh pendiri pondok, Mbah Yauqul Ghofur, yang juga merupakan kakek Gus Dliya’. Sejak awal berdirinya pesantren, pola tarawih cepat sudah diterapkan.
Hingga kini, pelaksanaan tarawih 23 rakaat tersebut tetap rutin digelar setiap Ramadan dan dipadati ratusan jemaah.
Solusi bagi Kaum Pekerja
Gus Dliya’ menjelaskan, latar belakang munculnya tarawih kilat berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat sekitar pada awal abad ke-20.
Saat itu, mayoritas warga merupakan mualaf, buruh, dan petani yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti tarawih dengan durasi panjang.
“Akhirnya beliau memutuskan untuk mencetuskan tarawih cepat seperti ini sebagai solusi bagi umat supaya tetap mau tarawih,” jelasnya.
Menurutnya, pada masa awal pernah digelar tarawih dengan durasi normal. Namun, jemaah sepi.
“Sebenarnya dulu juga tarawih normal, tetapi tidak bertahan lama karena tidak ada jemaah. Setelah tarawih cepat, banyak yang antusias,” terangnya.
Durasi standar tarawih tersebut sekitar 13 menit. Dalam kondisi tertentu, pelaksanaan bisa lebih singkat jika imam dalam kondisi prima.
Rukun Tetap Dijaga
Viralnya video tarawih kilat memicu perdebatan soal batas kecepatan salat berjemaah dan kekhusyukan ibadah.
Menanggapi hal itu, Gus Dliya’ menegaskan pelaksanaan tarawih di Pondok Mantenan tetap memenuhi rukun dan kesunahan salat.
“Ini yang perlu digarisbawahi, tarawih di Pondok Mantenan ini meskipun cepat tidak mengurangi rukun dan tidak mengurangi kesunahan-kesunahan dalam salat,” tegasnya.
Ia mengaku tidak mengetahui jumlah pasti jemaah setiap hari. Namun, antusiasme masyarakat disebut tetap tinggi dari tahun ke tahun.
Di akhir keterangannya, Gus Dliya’ mengajak umat Islam meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan, menjaga kerukunan, serta menghargai perbedaan dalam praktik keagamaan. ***






Tinggalkan Balasan