Etnosains di Balik Kesunyian

Bila kita melihat Tapa Bisu melalui kacamata etnosains — kajian pengetahuan tradisional yang berakar pada budaya lokal — logika di baliknya tidak sesederhana yang dikira. Kosmologi Jawa memandang waktu bersifat siklikal: ada momen di mana manusia perlu menyelaraskan ulang dirinya dengan alam semesta. Pantangan menggelar hajatan besar selama bulan Suro bukan sekadar takhayul, melainkan sistem pelindung sosial — ruang kolektif untuk refleksi sebelum kembali bergerak.

Cara pandang ini jauh lebih dekat dengan konsep psikologi modern daripada yang terlihat di permukaan.

Ketika Neurosains Mengejar Leluhur

Dopamine detox — praktik mengurangi paparan stimulus berlebih untuk memulihkan kepekaan otak — sedang ramai diperbincangkan dalam dunia kesehatan mental global. Para peneliti menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap notifikasi, makanan instan, dan hiburan digital dapat menumpulkan sistem penghargaan otak, memicu impulsivitas dan kelelahan perhatian kronis.

Tapa Bisu melakukan hal yang persis sama, hanya jauh lebih tua. Menahan bicara, menahan kantuk (tapa ngalong), dan berjalan dalam keheningan penuh secara kolektif memutus rantai stimulus eksternal. Ini bukan mistisisme. Ini adalah versi leluhur dari apa yang kini direkomendasikan oleh psikolog klinis sebagai mindfulness berbasis pengendalian diri — praktik yang terbukti meningkatkan regulasi emosi dan memulihkan fokus.

Konsep serupa dikenal dalam tradisi India sebagai tapas — dari akar kata Sansekerta tap yang berarti “membakar” — yakni disiplin batin yang memurnikan diri melalui penerimaan sadar atas ketidaknyamanan. Dalam diam satu malam itu, orang Jawa telah lama mempraktikkan sesuatu yang baru kita beri nama ilmiah belakangan ini.

Tapa yang Bisa Dimulai Malam Ini

Tapa Bisu tidak mengharuskan kita mengitari keraton untuk merasakan manfaatnya. Esensinya bisa diadaptasi: satu jam tanpa layar sebelum tidur, memilih diam daripada membalas komentar dengan amarah, atau menyediakan waktu pagi untuk duduk hening tanpa agenda. Bukan karena kita mengejar kesaktian. Melainkan karena kita ingin kembali menjadi manusia yang utuh — yang tahu kapan harus bicara, dan kapan keheningan justru menjadi bahasa paling jujur.

Leluhur kita sudah tahu itu sejak abad ketujuh belas. Pertanyaannya: kapan kita mulai mendengarkan?***