Binatang sebagai Bahasa Gagasan
Ketertarikan itu merembes ke ruang publik. Dalam tulisan-tulisannya di surat kabar, Soekarno kerap menjadikan binatang sebagai pintu masuk gagasan—bahkan untuk isu prinsipil seperti agama. Di Panji Islam (1940), ia mengisahkan peristiwa anjing yang menjilat air di panci. Anaknya, Ratna Juami, mengingatkan hadis tentang mencuci tujuh kali dengan tanah. Soekarno menjawab dengan tenang: di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin.
Dialog itu bukan upaya meremehkan ajaran, melainkan penegasan bahwa Islam—menurutnya—mencintai kemajuan. Umat, katanya, harus mewarisi “api” Islam, bukan “abunya.” Sikap ini kelak membawanya berdebat dengan tokoh-tokoh pemikir besar, termasuk Mohammad Natsir, tanpa menggoyahkan keyakinannya.
Dalam kursus Pancasila di Istana Negara pada 1958, ia kembali mengangkat kisah hadis tentang seorang perempuan yang memberi minum anjing kehausan—dan ganjaran surga yang menyertainya. Pesannya lugas: ada hubungan moral antara dua makhluk, dan empati melampaui status sosial.
Burung Nuri Raja dan Makna Merdeka
Suatu hari, dua tamu dari Maluku datang ke Istana Negara membawa hadiah: seekor burung nuri raja yang indah. Soekarno menyambut mereka dengan hangat—berbincang panjang, minum teh, bertukar cerita—sebelum akhirnya bertanya apakah ia bebas memperlakukan hadiah itu sesukanya.
Ia lalu meminta pengawal melepaskan burung tersebut di taman istana. “Biarkan ia merdeka,” kata Soekarno, seperti dituturkan Bambang Widjanarko dalam Sewindu Dekat Bung Karno. “Seperti kita ingin merdeka selama-lamanya.”
Kisah itu bukan romantisasi. Di Bengkulu, Soekarno pernah memelihara puluhan burung gelatik dan sepasang cucakrawa dalam sangkar besar. Alih-alih terhibur, ia merasa bersalah. Semua burung dilepaskan. “Aku tak tega melihat sesuatu dikurung,” ujar Guntur Soekarnoputra dalam Wartawan Bertanya, Guntur Soekarno Menjawab.
Menolak Sangkar, Menolak Penindasan
Sikap itu konsisten hingga ia menjadi presiden. Dalam sebuah inspeksi mendadak ke asrama Detasemen Kawal Pribadi, Soekarno melihat burung-burung dipelihara dalam sangkar. Ia memerintahkan agar semuanya dilepas.
“Jangan memenjarakan burung, sekalipun sangkarnya dari emas,” katanya, sebagaimana dicatat H. Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967. Pengalaman dipenjara tanpa kesalahan membuatnya peka: penindasan, dalam bentuk apa pun, tak bisa dibenarkan.
Ia melakukan hal serupa terhadap monyet yang dirantai di Sumatra, serta seekor kanguru hadiah saat Irian Barat kembali ke pangkuan Indonesia. Semua dilepaskan—dikembalikan ke habitat asalnya.




Tinggalkan Balasan