​Meskipun baliho raksasa yang menampilkan kebersamaan Mojtaba dan mendiang ayahnya bertebaran di seluruh penjuru negeri, banyak pihak memprediksi Mojtaba tidak akan muncul hingga seluruh prosesi berakhir.
​Selain masih dalam masa pemulihan akibat luka parah dari serangan empat bulan lalu, Mojtaba juga menghadapi ancaman pembunuhan yang terus disuarakan oleh Israel. Ancaman serupa juga mengintai para petinggi Iran lainnya, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghci dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Kehadiran utusan dari 30 negara, termasuk Indonesia, menegaskan signifikansi posisi Iran di mata komunitas internasional, terutama poros Timur. Rangkaian pemakaman ini tidak sekadar menjadi ajang perpisahan nasional, tetapi juga mengirimkan pesan geopolitik yang kuat di tengah eskalasi konflik yang terus membayangi kawasan Timur Tengah.***



Tinggalkan Balasan