Pakar sejarah C.C. Berg, dalam kajiannya (Kidung Sundayana, 1950), menyimpulkan bahwa teks Pararaton bersifat supranatural dan ahistoris secara keseluruhan. Ditulis bukan untuk merekam fakta, melainkan untuk melegitimasi kekuasaan melalui narasi gaib dan kutukan. 

Sementara Wayan Jarrah, sejarawan Asia Tenggara dari École française d’Extrême-Orient (EFEO) Paris, mencatat bahwa jarak antara salinan tertua Pararaton dengan era Singasari yang dikisahkannya terpaut beberapa abad — sebuah rentang yang secara metodologis perlu diperhitungkan.

Prasasti sebagai Saksi Primer

Di tengah perdebatan itu, Prasasti Mula Malurung menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan salinan, bukan terjemahan, dan bukan karya anonim. Ia adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh keturunan langsung dinasti yang bersangkutan, dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno, di atas media yang tahan waktu.

Berdasarkan analisis Slamet Muljana, dalam Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), prasasti ini mengungkap fakta-fakta baru, di mana pendiri Kerajaan Tumapel disebut sebagai Bhatara Siwa — nama lain Sang Rajasa alias Ken Arok — yang wafat di tahta kencana. Tidak ada keris berdarah. Tidak ada intrik makan siang di singgasana.

Bagi Agus Sunyoto, itu semua bukan sekadar perbedaan versi. Itu adalah soal metodologi: seberapa jauh sebuah teks sastra anonim yang penuh unsur supranatural bisa digunakan sebagai sumber sejarah faktual, ketika prasasti sezaman menyajikan narasi yang berbeda?

Dan apakah benar kecurigaan Agus Sunyoto, bahwa Ken Arok yang selama ini kita kenal adalah “tokoh fiktif” yang sengaja direkayasa oleh akademisi penjajah Belanda untuk meruntuhkan kebanggaan historis pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa?

Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Dan justru di situlah historiografi Nusantara masih terus bergerak.***


  • Catatan redaksi: Naskah ini dipublikasikan ulang dengan beberapa perbaikan untuk mempertahankan objektivitas dan kesan tendensius. 

Daftar Referensi:

  • Berg, C.C. (1950). Kidung Sundayana: Babak dalam Sejarah Majapahit. [Kajian ahistoris sastra Jawa Pertengahan]
  • Brandes, J.L.A. (1897). Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Batavia: Albrecht & ‘s Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
  • Muljana, Slamet. (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. [Analisis Prasasti Mula Malurung]
  • Sunyoto, Agus. (2017). Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
  • Suwardi. (2008). “Manunggaling Ken Arok dan Serat Pararaton.” Jurnal Sejarah dan Budaya. Jakarta.
  • Kemdikbud RI. “Prasasti Mula Malurung.” kebudayaan.kemdikbud.go.id