Pendidikan berkiblat Barat perlahan mengikis identitas Nusantara. K.H. Agus Sunyoto memandang pesantren sebagai solusi krisis jati diri. 


​KOSONGSATU. ID – Indonesia adalah bangsa yang besar. Ironisnya, kalimat tersebut lebih sering menggema sebagai retorika pejabat negara untuk menenangkan rakyatnya sendiri, ketimbang benar-benar terejawantahkan di panggung internasional.

Fakta hari ini menunjukkan bahwa hegemoni dunia masih berada dalam genggaman bangsa Barat. Alih-alih membanggakan kebesaran budaya sendiri, masyarakat kita justru berlomba-lomba mengadopsi gaya hidup sekuler dan individualis.

​Menelusuri fenomena hilangnya muruah bangsa ini, kita harus berani menengok kembali sektor yang paling mendasar: sistem pendidikan.

​Sejarawan dan budayawan NU, K.H. Agus Sunyoto, menyoroti realitas pahit ini dengan tajam. Melalui kajian sejarah Nusantara yang mendalam, ia membongkar akar kemunduran pendidikan di Indonesia. Paradigma pendidikan kita saat ini, yang sangat berkiblat pada Barat, justru mengalienasi manusia Indonesia dari akar budayanya sendiri.

​Runtuhnya Orisinalitas Pendidikan Nusantara

​Masyarakat modern sering kali terjebak pada ilusi bahwa pendidikan formal baru dimulai sejak Belanda mendirikan sekolah-sekolah di era Politik Etis. Kurikulum standar nasional yang mulai bergulir pada 1892 sering dianggap sebagai tonggak awal kecerdasan bangsa. Padahal, K.H. Agus Sunyoto dengan tegas membantah premis tersebut.

​Jauh sebelum kolonial datang membawa sistem sekolah yang bertujuan mengkapitalisasi ilmu Barat, Nusantara telah memiliki sistem pendidikan yang sangat mapan. Masa Kapitayan (pra Hindu-Buddha) melahirkan Padepokan. Ketika ajaran Buddha masuk, muncul Asrama. Era Hindu menumbuhkan Dukuh, dan kedatangan Islam melahirkan Pesantren.

​Keempat wujud pendidikan orisinal ini terbukti sukses melahirkan produk peradaban yang monumental. Nenek moyang kita merumuskan aksara sendiri—mulai dari aksara Jawa, Sunda, Bali, hingga Batak.

Mereka juga menyusun sistem kalender agraris Pranoto Mongso dan kalender astronomi Pawugon yang akurat untuk menentukan musim tanam. Bandingkan dengan sistem sekolah masa kini yang sering kali hanya memproduksi pemegang gelar akademis, namun miskin karya orisinal yang murni lepas dari kapitalisasi asing.

​Ketimpangan Nalar dan Ilusi Modernitas

​Sistem sekolah modern perlahan meminggirkan identitas lokal dan menanamkan kacamata kebarat-baratan. Kebudayaan Nusantara mulai dicap tertinggal, sementara budaya luar dipuja sebagai standar modernitas dan rasionalitas.

​Ketimpangan ini bermula dari jenis pengetahuan yang dikembangkan. Pendidikan Nusantara kuno menyeimbangkan dua pilar: pengetahuan nalar (logika dan analisis) serta Piranti Kawruh (intuisi dan kecerdasan hati). Konsep ini terus berevolusi menjadi Budhi dan Jenana di era Hindu-Buddha, lalu bermetamorfosis menjadi Ilmu Akal dan Ilmu Qolbu saat Islam datang.

​Sebaliknya, cetakan pendidikan Barat mengagungkan nalar belaka. Segala sesuatu yang tidak kasat mata dan tidak bisa diukur secara materialistis dianggap tidak ilmiah. Sikap inilah yang menyemai bibit sekularisme di tengah masyarakat.

​Gagasan ini mendapat resonansi dari Profesor Bagus Muljadi di Universitas Nottingham. Ia membedah akar kata edukasi dari bahasa Latin, yakni educare (melatih/membentuk) yang sering terjebak pada metode hafalan, dan educere (mengeluarkan/mengembangkan).

Pendidikan sejati seharusnya menarik manusia dari kegelapan menuju cahaya (to bring out from the darkness into the light), membekali mereka untuk berinovasi dari ketidakpastian, bukan sekadar mencetak mesin penghafal tanpa etika. Di masa lalu, kita memiliki Kitab Sila Kramaning Wiku atau Ta’lim Muta’allim sebagai landasan adab. Hari ini, pendidikan etika sering kali hanya menjadi pemanis kurikulum.

​Pesantren sebagai Benteng Terakhir Identitas Bangsa

​Ketika sistem pendidikan kolonial menghapus aksara, bahasa, hingga sistem hitungan lokal dengan standar Eropa, ekosistem pesantren tampil sebagai anomali yang menyelamatkan wajah peradaban Nusantara.

​Keberadaan pesantren membuktikan kecerdasan strategi dakwah kebudayaan ala Wali Songo. Alih-alih meratakan peradaban lama, para wali memodifikasi institusi Asrama atau Dukuh warisan era Syiwa-Buddha. Kata santri sendiri diserap dari sashtri—orang yang mempelajari kitab suci. Etika Gurubakti era Majapahit berakulturasi sempurna dengan nilai ketundukan dalam kitab Ta’lim Muta’allim.

​Hingga detik ini, pesantren menjadi satu-satunya lembaga yang teguh mempertahankan sistem pendidikan orisinal seperti sorogan dan bandongan, menggunakan aksara pego, serta memadukan kecerdasan spiritual dan moral.

​Menyoroti krisis ini, K.H. Agus Sunyoto melontarkan kritik keras yang patut menjadi bahan kontemplasi nasional. Beliau menegaskan bahwa bangsa ini tengah menderita penyakit kehilangan jati diri akibat produk warisan kolonialisme.

​”Bangsa kita saat ini sedang menghadapi problem besar yaitu anemia, lesu darah karena kehilangan identitas. Hal itu terjadi karena pengaruh sistem pendidikan Belanda, sehingga mengikis seluruh identitas masyarakat Nusantara yang dulu ada, melalui pendidikan formal yang berorientasi Eropa,” tegas K.H. Agus Sunyoto.

​Menjemput Kembali Muruah Peradaban

​Kritik tajam K.H. Agus Sunyoto bukanlah sebuah ajakan regresif untuk menolak teknologi atau modernitas. Ini adalah panggilan darurat untuk menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan global dengan kesadaran sejarah dan karakter bangsa.

​Kemajuan sebuah negara tidak akan pernah berdiri tegak jika fondasinya berpijak pada kebudayaan pinjaman. Sudah saatnya sistem pendidikan Indonesia berhenti menjadi pengekor Barat dan mulai kembali menggali kearifan lokal. Sebab, hanya bangsa yang menghargai tradisi dan kuat menjaga identitasnyalah yang akan mampu berdiri sejajar dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia. ***


​Daftar Pustaka:

  • ​Adriyamarthanino, V., & Nada, S. (2021). Sejarah Kurikulum Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa.
  • Muljadi, Bagus. (2025). Filosofi Edukasi: Memaknai Educare dan Educere dalam Konteks Pendidikan Indonesia.
  • SMCMediavisitama. (2020). Pandangan K.H. Agus Sunyoto terhadap Sistem Pendidikan Indonesia.
  • Tim Redaksi NU Online. (Wawancara dengan K.H. Agus Sunyoto). Pentingnya Menjaga Identitas Bangsa Melalui Tradisi Pesantren.
  • ​Az-Zarnuji, Syaikh. Kitab Ta’limul Muta’allim.