​Mahakarya Diplomasi Budaya

​Wujud fisik ketupat sengaja dipertahankan secara utuh, namun esensinya diubah total dari ritual animisme dan dinamisme menjadi sarana dakwah keagamaan.

Dalam praktiknya, Sunan Kalijaga memperkenalkan sebuah tradisi baru bernama Bakda Lebaran yang digelar saat Idul Fitri, serta Bakda Kupat pada satu minggu setelahnya.

​Pada kedua momen krusial tersebut, ketupat dibagikan secara masif kepada masyarakat luas. Tujuannya sangat jelas dan terukur. Sang Sunan ingin mentransformasi sebuah tradisi lokal kuno menjadi media penyebaran nilai-nilai Islam yang ramah, sekaligus menyematkan makna permohonan maaf dan kesucian batin.

​Sejarawan Kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menguraikan lebih lanjut fenomena historis ini. Lewat riset arsipnya pada periode 2020-2023, ia menyatakan bahwa ketupat adalah medium penyebaran agama yang brilian.

​”Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Momen ini yang bisa membuat kuliner masa lalu bisa tetap bertahan dan disukai,” jelasnya, dikutip dari materi riset, Sabtu (21/3/2026)

​Taktik luhur Sunan Kalijaga ini diakui secara luas oleh sosiolog dan sejarawan sebagai sebuah mahakarya diplomasi budaya.

Sebuah taktik kultural yang sukses mempercepat proses Islamisasi di Nusantara tanpa memicu resistensi budaya.

Tidak ada setetes pun konflik berdarah yang tercipta. Ketupat berhasil menjadi pusaka kuliner yang bertindak sebagai simbol toleransi abadi.***