Memecah Keraton dengan Pesantren
Salah satu taktik paling efektif adalah membelah dua kelompok literat: pujangga keraton dan ulama pesantren. Para pujangga direkrut untuk mencari naskah-naskah kuno, yang lalu ditafsirkan ulang dan ditulis kembali sesuai selera kolonial. Akibatnya, mereka makin menjauh dari Islam ala pesantren.
Inilah politik pengetahuan kolonial. Ia memisahkan keraton dari pesantren, dan menciptakan jurang antara priyayi dan santri. Proyek ini kemudian menghasilkan karya-karya yang secara terang-terangan mencela Wali Songo dan ajaran Islam tradisional.
Agus Sunyoto, sejarawan dan penulis Atlas Walisongo, menyebut banyak naskah kolonial adalah fiktif. Dalam versi kolonial, Wali Songo dilukiskan sebagai perusak peradaban. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai utusan China untuk menghancurkan Majapahit—narasi yang ditulis dalam Kronik Sam Po Kong, yang ternyata tak pernah ada di arsip resmi Den Haag.
Contoh lain: Babad Kediri, ditulis tahun 1832 oleh jaksa kolonial Mas Ngabehi Purbowijoyo. Naskah itu katanya bersumber dari jin, dan isinya mendiskreditkan ulama serta Islam. Misionaris seperti Ki Tunggul Wulung kemudian mengutip naskah ini untuk menulis Suluk Gatoloco, yang isinya menghina Islam secara terang-terangan.
Tahun 1860, kolonial menerbitkan Kidung Sunda, yang mengisahkan Perang Bubat. Narasi ini tidak ditemukan di prasasti Majapahit maupun manuskrip Sunda, namun sengaja disebar untuk mengadu Jawa dan Sunda.
Kemudian lahir pula Serat Pararaton, yang menyebut Ken Arok sebagai penjahat dan anak haram. Menurut Agus, ini dibuat untuk mendelegitimasi kebanggaan Mataram yang mengaku keturunan Majapahit.
Zoetmulder, seorang intelektual Katolik, turut melanjutkan proyek ini lewat Kalangwan: Sastra Jawa Kuno. Karyanya menghapus jejak sastra Islam yang telah lebih dulu hidup di tanah Jawa.
Sudah Waktunya Kita Sadar!
Dalam forum bedah bukunya di Kediri (4 September 2019), Agus Sunyoto mengingatkan: waspadalah terhadap narasi sejarah buatan kolonial. Jangan jadikan historiografi Barat sebagai rujukan tunggal. Bandingkan dengan prasasti dan naskah sezaman yang lebih otentik.
Sejarah kita dirancang untuk menjauhkan bangsa ini dari jati dirinya. Bukan hanya penjajahan tanah dan sumber daya, tetapi penjajahan atas ingatan.
Kini, tugas kitalah untuk menyembuhkan luka itu—dengan membaca ulang sejarah dari kacamata yang lebih adil dan jernih.***




Tinggalkan Balasan