Program ini mematok target ambisius pada tahun 2027 dengan volume ekspor perdana mencapai 5.000 ton dalam bentuk uwi segar maupun tepung. Inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai penyokong kebutuhan industri manufaktur maju di kancah internasional. Dengan persiapan yang matang, komoditas uwi diharapkan menjadi primadona baru dalam portofolio ekspor nasional.
Swasembada ini hanyalah langkah awal. Target berikutnya adalah menembus pasar internasional, terutama Jepang dan Korea Selatan yang memiliki permintaan tinggi terhadap umbi-umbian berkualitas premium.
Statistik & Peta Produksi Nasional
Pencapaian swasembada ini didorong oleh lonjakan produksi yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Berikut adalah ringkasan data produksi uwi nasional:
1. Tren Produksi Tahunan (Estimasi)
2024: 185.000 Ton (Tahap revitalisasi lahan)
2025: 245.000 Ton (Mulai industrialisasi tepung uwi)
2026: 310.000 Ton (Target Swasembada Tercapai)
2. Sentra Produksi Utama:
Indonesia kini memiliki “Sabuk Uwi Nasional” yang tersebar di beberapa wilayah kunci:
Jawa Timur: Kontributor terbesar (sekitar 40% produksi nasional), dengan sentra utama di Kediri, Trenggalek, Ngawi, dan Bojonegoro.
Sulawesi Tenggara: Fokus pada pengembangan uwi ungu di Pulau Wangi-wangi (Wakatobi) dan Buton.
Nusa Tenggara Timur (NTT): Mengembangkan varietas uwi lokal yang tahan kekeringan sebagai cadangan pangan strategis.
3. Produktivitas Lahan:
Melalui penerapan teknologi bibit unggul, produktivitas rata-rata uwi meningkat dari 8–10 ton/hektar pada tahun 2024 menjadi 15–18 ton/hektar pada awal tahun 2026.
Tanggapan Ahli: Keberlanjutan adalah Kunci
Menanggapi pencapaian ini, pengamat ekonomi pertanian dari Institute for Food Security, Dr. Aris Munandar, memberikan catatan penting. Menurutnya, swasembada uwi adalah bukti bahwa komoditas lokal memiliki daya saing tinggi jika dikelola secara modern.
”Angka produksi 310.000 ton ini adalah prestasi besar. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi serapan industri. Pemerintah harus memastikan bahwa demand dari pabrik tepung dan industri makanan tetap tinggi agar harga di tingkat petani tidak anjlok saat panen raya tiba,” jelas Dr. Aris.





0 Komentar