Tradisi Bubak Kawah sarat makna syukur mantu pertama. Tahukah Anda ubo rampe awalnya pakai uwi dan gembili, bukan alat dapur?
KOSONGSATU. ID – Untuk memahami bagaimana pergeseran unik dari umbi-umbian menjadi alat dapur ini bisa terjadi, kita perlu menelisik lebih jauh makna filosofis dan sejarah di balik ritus pernikahan masyarakat Jawa tersebut.
Makna Mendalam di Balik Istilah Bubak Kawah
Masyarakat Jawa memiliki cara yang unik dan sarat makna untuk mensyukuri pernikahan anak sulung mereka melalui sebuah tradisi bernama Bubak Kawah. Lebih dari sekadar seremoni, prosesi ini memegang peranan penting dalam interaksi sosial dan membawa pesan filosofis yang mendalam.
Dalam buku “Menjadi MC Acara Pernikahan” karya Lies Aryati, dicatat bahwa Bubak Kawah merupakan tanda penghormatan sekaligus rasa syukur orang tua yang baru pertama kali menikahkan anaknya. Secara etimologi, kata “Bubak” berarti membuka atau memulai, sedangkan “Kawah” merujuk pada wadah tempat memasak atau rahim ibu.
Filosofinya sangat indah: anak sulung bertugas membuka jalan bagi adik-adiknya, layaknya kawah yang pertama kali ibu gunakan untuk memasak demi menghidupi keluarga. Melalui prosesi ini, orang tua melangitkan doa agar rumah tangga anak mereka selalu mendapat keselamatan, kebahagiaan, dan kelimpahan rezeki dari Sang Pencipta.
Uwi dan Gembili: Ubo Rampe Asli Sarat Filosofi
Seiring berjalannya waktu, visualisasi tradisi ini mengalami pergeseran. Pada masa lampau, masyarakat umumnya menggelar Bubak Kawah pada acara midodareni, tepat sebelum prosesi tumuruning kembar mayang. Pada momen ini, ubo rampe (perlengkapan) yang digunakan bukanlah perabotan rumah tangga berbahan plastik atau logam seperti sekarang.
Tuan rumah secara khusus menyiapkan ubo rampe berupa umbi-umbian tradisional, utamanya uwi dan gembili. Umbi-umbian yang tumbuh di dalam tanah ini menyimbolkan sifat membumi, ketahanan, serta kesederhanaan sebagai fondasi awal membangun rumah tangga.
Keluarga akan menata sajian uwi dan gembili ini di dalam klemuk (kendil dari tanah liat) yang berbeda-beda. Klemuk tersebut kemudian diletakkan di tengah bale rinengga di bawah naungan payung. Setelah sesepuh atau petugas khusus memanjatkan doa, keluarga kemudian membagikan isi klemuk tersebut kepada para tamu yang hadir sebagai wujud sedekah dan berbagai kebahagiaan.
Pergeseran Tradisi: Kemeriahan Rebutan Perabotan Dapur
Karena ritus bercerita dan prosesi tradisional di masa lalu memakan waktu yang cukup lama, masyarakat modern mulai menggeser pelaksanaannya ke acara resepsi (khususnya saat acara panggih atau temu pengantin) agar lebih praktis.
Ubo rampe pun bergeser dari uwi dan gembili menjadi aneka perabotan rumah tangga dan alat dapur. Kemeriahan memuncak ketika seorang pria memikul tiang bambu yang digantungi panci, gayung, wajan, hingga centong. Tamu undangan kemudian akan bersorak dan berebut mengambil perabotan tersebut.
Haji Noto Basuki (69), salah satu warga Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, membenarkan antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini. Kepada Kosongsatu.id (29/3/2026), ia menjelaskan bahwa tradisi ini tetap menjadi bentuk syukur pembuka jalan.
”Peralatan dapur seperti panci, gayung, dan wajan kita gantungkan di bambu, lalu kita biarkan tamu berebut,” jelas Haji Basuki. Ia menceritakan betapa lucunya ketika warga sudah tidak sabar dan menarik perabotan tersebut sebelum waktunya tiba, menciptakan momen yang sangat hangat.
Warga lainnya, Dika (36) mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan pergeseran spesifik menuju perabotan dapur. Namun, ia meyakini bahwa tradisi peninggalan leluhur ini memiliki niat yang baik dan patut dilestarikan oleh generasi muda.
Menjaga Warisan Budaya Bangsa
Pergeseran ubo rampe dari uwi dan gembili menjadi perabotan dapur menunjukkan bahwa tradisi budaya itu dinamis dan bisa menyesuaikan dengan zaman. Meski wujud barang yang dibagikan berubah, esensi dari tradisi Bubak Kawah tetaplah sama. Prosesi ini bukan sekadar ajang kemeriahan berebut barang, melainkan simbol tanggung jawab, kasih sayang orang tua, dan doa restu yang tulus. Merawat tradisi ini berarti kita ikut melestarikan nilai-nilai luhur kehidupan bermasyarakat peninggalan nenek moyang.***




Tinggalkan Balasan