Ribuan tahun sebelum satelit dan sensor cuaca, Suku Sasak Lombok sudah membaca musim dari bintang. Dan sains modern membuktikan mereka tidak salah.


KOSONGSATU.ID — Setiap subuh di bulan Mei, leluhur Suku Sasak Lombok melakukan satu hal yang kelihatannya sederhana: menatap ufuk timur, mencari gugus bintang yang mereka sebut Rowot. Kemunculannya menandai pergantian tahun — sekaligus sinyal bahwa musim tanam telah tiba.

Itu bukan ritual tanpa dasar. Kajian astronomi UIN Walisongo menggunakan perangkat lunak Stellarium mengonfirmasi bahwa Rowot adalah Pleiades — dengan koordinat terverifikasi: asensiorekta 3h48m28.6s, deklinasi +24°06’19”.

Presisi itu tidak datang dari teleskop, melainkan dari ribuan tahun pengamatan mata telanjang sebelum subuh.

Badan meteorologi yang lebih tua dari negara ini

Yang lebih mengejutkan: sistem musim Kalender Rowot berkorelasi langsung dengan data prakiraan musim hujan BMKG untuk wilayah Nusa Tenggara Selatan. Leluhur Sasak sudah punya badan meteorologi mereka sendiri — jauh sebelum BMKG berdiri.

Kalender ini bekerja melalui pola 5-15-25, disinkronkan dengan kalender Hijriah dan selalu jatuh di bulan Mei dalam penanggalan Masehi. Ritual pengamatannya disebut Ngandang Rowot — sebuah acara komunal yang melibatkan seluruh warga desa.

Selain Pleiades, masyarakat Sasak juga menggunakan rasi Enggale (Orion) dan Tegedoq Bute untuk keperluan mendesak: sinyal melaut, penanda penghujung tahun, dan penentuan awal bulan. Ini bukan satu bintang panduan — ini sebuah sistem navigasi waktu yang lengkap.

Ilmu yang lahir dari ladang dan laut

Sistem ini tidak dikembangkan di laboratorium. Ia lahir dari generasi yang hidupnya bergantung pada ketepatan musim — petani yang harus tahu kapan menanam, nelayan yang harus tahu kapan berlayar.

Sayangnya, peneliti UIN Walisongo mencatat bahwa Kalender Rowot hampir tidak dikenal generasi muda Sasak saat ini. Pengetahuan yang butuh ribuan tahun untuk dibangun, bisa hilang dalam satu generasi yang memilih melihat prakiraan cuaca di ponsel.

Ironinya: prakiraan cuaca di ponsel itu, pada akhirnya, mengukur hal yang sama dengan yang sudah dibaca leluhur Sasak dari bintang.***


Daftar Rujukan

  • Awaludin, Muhammad. (2017). Sistem Musim Kalender Rowot Sasak Perspektif Astronomi: Studi Kasus di Desa Kidang, Lombok Tengah. Tesis Magister. UIN Walisongo Semarang. https://eprints.walisongo.ac.id
  • Awaludin, Muhammad. (2017). Penanggalan Rowot Sasak dalam Perspektif Astronomi: Penentuan Awal Tahun Kalender Rowot Sasak Berdasarkan Kemunculan Bintang Pleiades. UIN Walisongo Semarang. https://www.academia.edu/115596502
  • Detik Bali. (2024, Desember 27). Mengenal Kalender Rowot Sasak, Warisan Budaya Masyarakat Lombok. https://www.detik.com/bali/budaya/d-7705858
  • Stellarium Web — aplikasi astronomi berbasis browser untuk verifikasi posisi bintang. https://stellarium.org