Sukarno lama mengagumi karya Tan Malaka, namun baru benar-benar bertemu usai Proklamasi. Dalam kegelapan rumah dr. Soeharto, lahirlah diskusi rahasia tentang arah revolusi Indonesia.
KOSONGSATU.ID—Soekarno mengagumi karya-karya Tan Malaka sejak 1920-an. Buku Massa Actie atau Aksi Massa menjadi rujukan penting dalam kursus-kursus politik PNI yang dipimpin Soekarno. Bahkan, salah satu alasan Soekarno ditangkap Belanda pada 1929 adalah karena buku itu ditemukan di kamarnya.
Djamaluddin Tamim, sahabat Tan Malaka, pernah menulis bahwa Soekarno menitipkan surat kepada Tan, meminta arahan perjuangan. Tan membalas dengan artikel Pari dan Kaum Intelektuil Indonesia dari pengasingannya di Bangkok.
Pertemuan tak resmi antara keduanya pernah terjadi pada Juni 1943 di Bayah, ketika Soekarno berdebat dengan seseorang bernama Hussein Ilyas—yang ternyata adalah Tan Malaka dalam penyamaran. Soekarno tak menyadarinya.
Barulah pada 9 September 1945, sebulan setelah Proklamasi, keduanya bertemu secara resmi di rumah dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno, di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Menurut catatan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (2018), pertemuan itu digelar dalam gelap demi kerahasiaan.
Soekarno menggunakan kesempatan itu untuk mengonfirmasi isi Massa Actie, yang ia sebut sangat memengaruhi pikirannya. Tan memberi tiga saran: pindahkan pemerintahan ke pedalaman, pulangkan Belanda-Inggris, dan jadikan Jakarta medan pertempuran melawan Sekutu.
Menurut catatan dr. Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah, Soekarno bahkan berkata: “Kalau saya tiada berdaya lagi, maka kelak pimpinan nasional akan saya serahkan kepada saudara.”—bersambung—
Testamen Politik dan Akhir Tragis
Pernyataan Soekarno dalam pertemuan rahasia itu melahirkan dokumen yang kemudian dikenal sebagai “testamen politik Soekarno”.
Menurut kesaksian Ahmad Soebardjo, ia mengetik testamen itu, yang berisi penunjukan Tan Malaka sebagai calon penerus jika Soekarno-Hatta gugur atau ditawan.
Namun, Mohammad Hatta menolak bila hanya Tan yang disebut. Ia menambahkan nama Sutan Sjahrir, Wongsonegoro, dan Iwa Kusumasumantri. Intrik politik membuat wasiat itu kehilangan makna.
Tan sendiri, menurut Sayuti Melik dalam Wawancara dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi, menerima saran Hatta untuk berkeliling Jawa. Tapi langkah itu justru menjauhkannya dari pusat kekuasaan di Jakarta.
Sejarawan militer Abdul Haris Nasution bahkan menegaskan, pikiran Tan Malaka tentang perang rakyat semesta—yang ia tuangkan dalam buku Gerporlek—benar-benar menginspirasi strategi TNI melawan agresi Belanda. Namun, Tan sendiri tidak pernah duduk di lingkaran inti kekuasaan.
Sejarah akhirnya berujung tragis. Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka ditembak mati oleh tentara republik di Selopanggung, Kediri. Testamen Soekarno tak pernah dipakai. Menurut catatan dalam Soekarno Poenja Tjerita, dokumen itu bahkan dihancurkan oleh Soekarno sendiri pada 1964—dengan cara dirobek dan dibakar.
Dari guru politik yang sempat hampir menjadi pewaris, Tan Malaka berakhir tanpa nisan.—Selesai—




1 Komentar