Sukarno ketika menjadi romusha di Bayah, Banten Selatan. – Dok. Istimewa

Foto-foto itu, menurut sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, menjadi propaganda untuk meyakinkan rakyat bahwa kerja paksa adalah pengabdian.

Namun, bertahun-tahun kemudian, kepada penulis Amerika Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno mengaku menyesal:

“Sesungguhnya akulah Soekarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya… Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian… Aku bergambar dengan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudahnya menjadi romusha. Mengerikan. Ini membikin hati seperti diremuk-remuk.”

Kenyataannya, romusha tidak pernah kembali. Aiko Kurasawa mencatat 30 ribu romusha mati di jalur kereta Thailand–Burma. Ribuan lainnya meninggal di proyek rel Saketi–Bayah akibat kelaparan dan penyakit.

Bagi Tan Malaka, apa yang dikerjakan Soekarno kala itu adalah pengkhianatan. Menurut catatan sejarawan Belanda Harry A. Poeze, dalam Pergulatan Menuju Republik, Tan bersaksi bahwa ratusan romusha mati setiap bulan akibat malaria dan kolera.

Kekecewaan ini mempertegas pandangannya bahwa kompromi Soekarno hanya menyisakan korban.bersambung