Bait ketujuhnya paling sering dikutip, dan paling sering terasa aktual: “Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi” — hidup di zaman gila, serba susah mengambil sikap.

Zaman berganti. Kutipan itu tidak.

Dari “Putra Sang Fajar” ke “Mas Bowo”

Urutan kepemimpinan nasional adalah juga urutan narasi mesianik yang terus diperbarui. Soekarno dijuluki “Putra Sang Fajar” — lahir saat fajar, simbol kebangkitan dari kegelapan penjajah.

Soeharto masuk dengan narasi lebih pragmatis: “Bapak Pembangunan.” Repelita. Stabilitas. Penyelamat dari kekacauan Orde Lama. Untuk waktu yang lama, klaim itu terasa masuk akal.

Reformasi mengganti layar panggung. Gus Dur hadir sebagai negarawan pluralis, Megawati sebagai pewaris perjuangan. Lalu Jokowi menjadi framing paling egaliter yang pernah ada.

Pemimpin dari wong cilik. Anti-establishment. Tukang kayu dari Solo yang naik ke Istana tanpa latar militer maupun dinasti politik.

Kini giliran Prabowo. Narasi relawannya konsisten: pemimpin tegas yang berani melawan mafia ekonomi dan sumber daya alam. Pejuang, bukan politisi biasa.

Setiap narasi terasa segar saat pertama diluncurkan. Dan setiap kali, realita perlahan menepisnya.

Mengapa Pola Ini Tak Pernah Putus?

Ada dua penjelasan struktural yang saling mengunci. Pertama, dari sisi budaya, masyarakat yang tumbuh dalam tradisi paternalistik cenderung menitipkan harapan kolektif kepada satu figur, bukan kepada sistem.

Sindhunata, penulis Ratu Adil: Ramalan Jayabaya dan Sejarah Perlawanan Wong Cilik, menegaskan bahwa Ratu Adil sejatinya bukan datang sebagai person, melainkan sebagai pendekatan terhadap realitas demokrasi.

Tapi publik selalu lebih mudah memproyeksikan harapan ke sebuah wajah. Bukan ke sebuah mekanisme.

Kedua, dari sisi politik, elite selalu punya insentif membangun narasi mesianik. Pemimpin yang dikonstruksi sebagai “utusan zaman” lebih sulit dikritik. Mengkritiknya seolah mengkritik takdir.

Situasi makin rumit ketika kepercayaan investor goyah dan kredibilitas kebijakan tergerus. Masyarakat kembali merasa tak punya tempat bersandar selain sosok berikutnya.