Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan bahwa seluruh menteri Kabinet Merah Putih telah mencapai kesepakatan bulat mengenai penerapan kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari dalam sepekan.
KOSONGSATU.ID — Kesepakatan itu dihasilkan dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang berlangsung selama tiga hingga empat jam di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Rapat dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
“Kami sepakat untuk satu suara,” kata Tito di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (25/3/2026).
Menunggu Laporan ke Presiden
Meski kesepakatan telah tercapai, Tito menegaskan bahwa hasil rapat masih harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum diumumkan secara resmi ke publik. Ia mengaku tidak mengetahui menteri mana yang akan ditunjuk Istana untuk menyampaikan keputusan tersebut.
“Saya enggak mau menyebutkan. Kemarin pun sebenarnya sudah hampir mengarah kepada mayoritas setuju di satu hari yang sama. Tapi saya enggak menyampaikan, sekali lagi karena itu harus dilaporkan hasil rapat kemarin ke Bapak Presiden,” ujar mantan Kepala Kepolisian RI itu.
Tito menyebut dirinya hanya memberikan masukan terkait kebijakan tersebut dan tidak memiliki kewenangan untuk mengumumkannya ke publik.
Usulan Jumat Sebagai Hari WFH
Di tengah pembahasan kebijakan ini, muncul usulan agar WFH diberlakukan pada hari Jumat. Skema ini akan menciptakan rangkaian akhir pekan yang lebih panjang—Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Namun Tito enggan membeberkan secara rinci hari mana yang telah disepakati oleh para menteri.
Rencana WFH bagi aparatur sipil negara dan sektor swasta pertama kali mengemuka sejak pertengahan Maret. Presiden Prabowo dalam sidang kabinet di Istana Negara mendorong langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak sebagai antisipasi dampak krisis global menyusul meletusnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari.
Ekonom: WFH Sulit Diterapkan Secara Konsekuen
Ekonom energi sekaligus Dosen Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kebijakan WFH akan sulit diterapkan secara konsisten karena menyangkut perubahan pola kerja.
Ia menyatakan jika WFH satu hari diterapkan pada Jumat, pegawai berpotensi tidak benar-benar bekerja dari rumah, melainkan work from anywhere di tempat wisata sambil menikmati long weekend.
“Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” ujar Fahmy dalam keterangan tertulis, Ahad (22/3).
Ia membandingkan dengan masa pandemi Covid-19, di mana WFH berhasil menghemat BBM karena ada variabel keterpaksaan—yakni agar tidak tertular virus. Variabel itu tidak ada dalam kebijakan WFH satu hari yang akan diterapkan pemerintah.***




0 Komentar