Jutaan orang memakai rajah bertuliskan Arab—bukan karena takhayul, tetapi karena otaknya merespons keyakinan dengan cara yang bisa diukur oleh sains.


KOSONGATU.ID — Sebelum Anda memutuskan rajah itu takhayul, tanyakan dulu pada ahli saraf. Mereka punya jawaban yang mungkin mengejutkan.

Rajah—jimat bertuliskan huruf Arab berisi potongan doa atau ayat—kembali marak digunakan, tidak hanya di pedesaan tetapi juga di kalangan urban. Fenomena ini kerap dianggap sebagai bentuk kelemahan nalar. Padahal, di balik kertas kecil itu, ada mekanisme otak yang sangat serius.

Bukan Sugesti Biasa, Ini Neurokimia

Ketika seseorang meyakini sebuah simbol atau ritual akan melindunginya, otak tidak hanya “percaya” secara abstrak. Ia bekerja secara kimiawi.

Bukti neurobiologis menunjukkan bahwa ekspektasi dan keyakinan mengaktifkan dopamin, opioid endogen, dan endokannabinoid—tiga sistem yang mengatur rasa nyaman, penghilang nyeri alami, dan regulasi suasana hati.

Studi neuroimaging dengan positron emission tomography menunjukkan bahwa plasebo menginduksi aktivasi transmisi opioid di korteks anterior cingulate, orbitofrontal, dan insular, serta nucleus accumbens—wilayah otak yang terkait motivasi dan regulasi emosi. Dengan kata lain, keyakinan memproduksi respons biologis yang nyata dan terukur.

Ritual Menurunkan Kortisol, Ini Datanya

Bukan hanya soal opioid. Riset terhadap perempuan Israel yang membaca mazmur saat serangan rudal menunjukkan tingkat kecemasan lebih rendah dibanding yang tidak melakukannya; studi lain pada peserta ritual Hindu menemukan penurunan kadar kortisol yang terukur secara fisiologis.

Eksperimen di Harvard Business School membuktikan bahwa perilaku yang diyakini sebagai ritual—bukan sekadar gerakan acak—secara signifikan mengurangi kecemasan dan meningkatkan performa. Keyakinan bahwa sesuatu adalah ritual adalah bahan aktifnya.

Warisan Sinkretis yang Punya Akar Sejarah

Praktik rajah di Nusantara bukan lahir kemarin. Pada masa Kerajaan Mataram Islam di bawah Panembahan Senapati (1584–1601 M), pola keagamaan masyarakat cenderung sinkretis—memadukan nilai Islam dengan tradisi lokal pra-Islam yang telah mengakar. Sinkretisme Jawa-Islam dapat berupa perpaduan ritual, doa, dan mantra yang mencerminkan kosmologi lokal bercampur dengan ajaran Islam.