Jauh sebelum era komputer, bait-bait dalam Jangka Jayabaya sudah menyinggung kemunculan “orang cerdas dari barang mati” — dan kini, banyak yang membacanya sebagai gambaran kecerdasan buatan.


KOSONGSATU.ID – Delapan abad silam, nama Prabu Jayabaya menjadi legenda di tanah Jawa. Raja Kediri yang memerintah sekitar 1135–1157 itu dikenang bukan hanya karena kemenangan atas Jenggala, tetapi karena ramalan-ramalannya yang tersebar dalam tradisi lisan dan tulisan.

Ramalan itu dikenal sebagai Jangka Jayabaya — kumpulan nubuat dalam tembang Jawa yang oleh para sejarawan diyakini disusun jauh setelah era Jayabaya sendiri. 

Kitab paling tua yang dikaitkan dengan ramalan ini adalah Kitab Asrar karya Sunan Giri Prapen (1618 M), lalu ditulis kembali oleh Pangeran Wijil I pada 1749 M. Artinya, Jangka Jayabaya bukan sekadar satu teks, melainkan akumulasi tafsir lintas generasi.

Namun, terlepas dari perdebatan soal keasliannya, bait-bait Jangka Jayabaya terus dibaca ulang — kini dalam konteks kecerdasan buatan.

Barang Mati yang Bisa Bicara

Salah satu bait yang paling sering dikutip dalam percakapan tentang kecerdasan buatan berbunyi: “Barang-barang bakal bisa ngomong.” Dalam tafsir kontemporer, kalimat itu seolah menggambarkan asisten virtual seperti Siri, Alexa, atau berbagai model bahasa besar yang kini mampu merespons pertanyaan manusia dengan kalimat natural.

Ada pula bait tentang “wong tanpa raga” — sosok yang hadir tapi tak berwujud — yang dihubungkan dengan entitas digital: sistem algoritma yang kini mengendalikan arus informasi, keputusan keuangan, hingga rekomendasi kebijakan.

Tafsir seperti ini tentu bersifat analogis, bukan ilmiah. Tapi, justru di situ letak daya tariknya: kemampuan metafora lama untuk menghidupi pertanyaan baru.

Ketika Sains Berpapasan dengan Nubuat

Kegelisahan tentang kecerdasan buatan bukan hanya milik tradisi mistik. Fisikawan Stephen Hawking, dalam wawancara dengan BBC pada Desember 2014, menyampaikan peringatan yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam sejarah teknologi: bahwa kecerdasan buatan penuh bisa menjadi akhir dari ras manusia jika tidak dikendalikan dengan bijaksana.

Laporan MIT Technology Review bersama Arm memperkirakan ada peluang 50 persen kecerdasan buatan umum — yang mampu melampaui manusia di berbagai bidang — tercapai pada 2047. Bahkan, sifat-sifat awalnya sudah diprediksi muncul sekitar 2026.

Angka-angka itu terasa jauh lebih konkret dari bait tembang manapun. Tapi keduanya — ramalan Jawa dan proyeksi sains — berbagi kegelisahan yang sama: apa yang terjadi ketika “ciptaan” melampaui “pencipta”?

Bukan Ancaman, Tapi Cermin

Dalam pandangan Jawa, teknologi bukanlah musuh. Ia adalah alat — dan seperti semua alat, bahayanya terletak pada cara penggunaannya.

Bait penutup Jangka Jayabaya yang paling sering dikutip berbunyi: “Sapa eling lan waspada bakal slamet.” Siapa yang sadar dan waspada akan selamat. Dalam konteks hari ini, kalimat itu bisa dibaca sebagai ajakan menuju kesadaran etis digital — bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Membaca Jangka Jayabaya di era kecerdasan buatan bukan sekadar nostalgia mistik. Ini adalah undangan untuk merefleksikan arah kemanusiaan. Sebab, di balik semua kecerdasan yang kita ciptakan, pilihan tetap ada di tangan manusia: menjadi pengendali, atau dikendalikan oleh ciptaan sendiri.***


Catatan Redaksi: Artikel ini adalah publikasi ulang dengan beberapa perbaikan dan pembaruan. Disajikan untuk semakin membuka wawasan Bangsa Indonesia bahwa kita ini diciptakan sebagai bangsa yang cerdas melampaui zaman.