Laporan MIT Technology Review bersama Arm memperkirakan ada peluang 50 persen kecerdasan buatan umum — yang mampu melampaui manusia di berbagai bidang — tercapai pada 2047. Bahkan, sifat-sifat awalnya sudah diprediksi muncul sekitar 2026.

Angka-angka itu terasa jauh lebih konkret dari bait tembang manapun. Tapi keduanya — ramalan Jawa dan proyeksi sains — berbagi kegelisahan yang sama: apa yang terjadi ketika “ciptaan” melampaui “pencipta”?

Bukan Ancaman, Tapi Cermin

Dalam pandangan Jawa, teknologi bukanlah musuh. Ia adalah alat — dan seperti semua alat, bahayanya terletak pada cara penggunaannya.

Bait penutup Jangka Jayabaya yang paling sering dikutip berbunyi: “Sapa eling lan waspada bakal slamet.” Siapa yang sadar dan waspada akan selamat. Dalam konteks hari ini, kalimat itu bisa dibaca sebagai ajakan menuju kesadaran etis digital — bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Membaca Jangka Jayabaya di era kecerdasan buatan bukan sekadar nostalgia mistik. Ini adalah undangan untuk merefleksikan arah kemanusiaan. Sebab, di balik semua kecerdasan yang kita ciptakan, pilihan tetap ada di tangan manusia: menjadi pengendali, atau dikendalikan oleh ciptaan sendiri.***


Catatan Redaksi: Artikel ini adalah publikasi ulang dengan beberapa perbaikan dan pembaruan. Disajikan untuk semakin membuka wawasan Bangsa Indonesia bahwa kita ini diciptakan sebagai bangsa yang cerdas melampaui zaman.