Kapasitas produksi hidrogen hijau PLN IP tembus 80 ton per tahun.


KOSONGSATU.ID—​PT PLN Indonesia Power (PLN IP) mengukuhkan diri sebagai raksasa energi bersih di Tanah Air. Subholding PT PLN (Persero) ini terus memacu produksi hidrogen hijau secara masif.

Angka produksinya tidak main-main. Berdasarkan data yang tervalidasi per tahun 2025, perusahaan mampu menghasilkan 80 ton hidrogen hijau setiap tahunnya.

​Pencapaian luar biasa ini tidak lepas dari infrastruktur hulu yang mumpuni. Saat ini, PLN IP telah mengoperasikan secara aktif 13 hingga 14 unit Green Hydrogen Plant (GHP).

Fasilitas canggih tersebut tersebar di berbagai titik pembangkit listrik strategis nasional. PLTP Kamojang, PLTU Suralaya, dan PLTGU Priok menjadi bagian dari tulang punggung produksi ini.

​Pembangunan fasilitas hulu ini sejatinya sangat inovatif. PLN memanfaatkan kelebihan kapasitas pendingin generator di pembangkit yang ditenagai oleh panel surya maupun energi geotermal. Hasilnya adalah energi bersih yang siap disalurkan ke berbagai sektor vital.

​”PLN Indonesia Power telah mengembangkan green hydrogen atau hidrogen hijau, mulai dari hulu melalui Green Hydrogen Plant (GHP) hingga di sisi hilir,” jelas Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, dalam rilis resmi perusahaan pada April 2025 lalu.

​Edwin menegaskan bahwa capaian ini adalah tonggak sejarah baru. “Kontribusi ini menjadikan PLN IP sebagai penyumbang terbesar dalam produksi hidrogen hijau nasional,” tambahnya. Fakta ini membawa PLN IP ke pusat perhatian, bahkan sempat disorot global pada ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit 2025.

​Alokasi Cerdas untuk Transportasi

​Produksi sebesar 80 ton per tahun tentu membutuhkan manajemen alokasi yang cerdas dan tepat sasaran. PLN IP membagi hasil produksi ini ke dalam dua pos utama.

Sebanyak 32 ton dialokasikan khusus untuk operasional internal perusahaan. Hidrogen ini utamanya dipakai sebagai pendingin generator pembangkit listrik.

​Sementara itu, sisa produksi yang merupakan kelebihan kapasitas sebesar 48 ton tidak dibiarkan menganggur. Pasokan berharga ini disalurkan langsung untuk menyokong sektor transportasi dan kebutuhan industri.

Alokasi hilir inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) di Indonesia.

​Penggunaan hidrogen di sektor transportasi membawa dampak ekologis yang masif. Transisi ini dinilai sangat krusial oleh banyak pakar. Pasalnya, pembakaran hidrogen murni pada kendaraan jenis FCEV sama sekali tidak meninggalkan jejak karbon. Kendaraan tersebut murni hanya membuang uap air (H₂O) ke udara.