Mapalus dan Energi Kolektif Minahasa

Pelajaran serupa hadir di Sulawesi Utara melalui tradisi Mapalus⁠.

Mapalus awalnya berkembang dalam kegiatan pertanian. Warga bergantian membantu pekerjaan anggota kelompok sehingga beban yang berat menjadi lebih ringan.

Seiring perubahan zaman, bentuknya berkembang. Namun esensinya tetap sama: kerja bersama demi kepentingan bersama.

Dalam Mapalus, seseorang tidak dinilai dari identitas politiknya. Yang lebih penting adalah kesediaannya ikut bekerja ketika komunitas membutuhkan bantuan.

Prinsip itu terdengar sederhana. Justru karena sederhana, ia mampu bertahan lebih lama daripada banyak proyek sosial yang lahir dari kekuasaan.

Adat Mengajarkan yang Dilupakan Politik

Pela Gandong dan Mapalus lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian.

Keduanya menunjukkan bahwa solidaritas tidak tumbuh dari baliho, tagar, atau pidato persatuan. Solidaritas tumbuh ketika orang memiliki tanggung jawab nyata terhadap sesamanya.

Di tengah polarisasi politik, banjir disinformasi, dan menurunnya kepercayaan sosial, pelajaran itu terasa semakin relevan.***