Yahya Cholil Staquf meminta Indonesia aktif mendorong perdamaian global sambil memperkuat gotong royong warga agar tahan menghadapi dampak perang dan gejolak ekonomi.


KOSONGSATU.ID – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, meminta pemerintah Indonesia memosisikan diri sebagai sahabat bagi semua pihak di tengah konflik global, khususnya di Timur Tengah.

Sikap itu, kata dia, penting agar Indonesia bisa ikut mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi dan perundingan damai. 

Dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat, 10 April 2026, Yahya mengatakan negara-negara yang terlibat dalam ketegangan itu merupakan sahabat Indonesia.

“Oleh karena itu, kita harus mendudukkan diri sebagai sahabat,” kata Yahya. 

Dorong Dialog, Tolak Kekerasan

Yahya menegaskan perang dan kekerasan, apa pun alasannya, merupakan bencana kemanusiaan yang harus dicegah.

Ia juga menyambut baik gencatan senjata Iran dan Amerika Serikat, serta mengapresiasi upaya Pakistan yang disebut ikut menjadi penengah komunikasi pihak-pihak yang berkonflik. 

“Berharap ini menjadi permanen. Gencatan senjata ini diikuti dengan penghentian kekerasan secara menyeluruh,” ujar Yahya.

Ia menambahkan, semua perbedaan kepentingan harus diselesaikan lewat jalan damai, bukan kekerasan bersenjata. 

Perkuat Ketahanan Sosial Warga

Selain diplomasi luar negeri, Yahya menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan sosial dari tingkat bawah. PBNU, kata dia, mendorong penguatan societal resilience atau ketahanan sosial masyarakat dengan menghidupkan kembali tradisi gotong royong agar warga mampu saling menopang saat krisis global menekan energi, ekonomi, dan kehidupan sosial. 

“Kita harus membangun apa yang saya istilahkan sebagai societal resilience,” kata Yahya.

Ia mencontohkan solidaritas warga saat gempa Yogyakarta sebagai model gotong royong yang perlu diperkuat kembali.

Menanggapi gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon, Yahya meminta publik memandang perang secara jernih dan tidak emosional.