Puncak acara terjadi pada putaran terakhir. Pengantin bungsu menendang gentong hingga pecah dan air tumpah ke tanah. Sesaat setelah itu, pemuka adat menebarkan beras kuning dan uang receh ke arah warga yang menonton.

Momen inilah yang paling ditunggu. Anak-anak hingga orang dewasa berbaur, saling berebut koin, dan larut dalam kegembiraan yang sama.

Simbol Syukur dan Berbagi

Di balik suasana riuh itu, setiap unsur ritual menyimpan makna. Saling menggandeng baju melambangkan eratnya persaudaraan. Mengitari gentong menjadi pengingat agar saudara tetap saling menjaga dan menasihati.

Pecut dimaknai sebagai lecutan semangat dari orang tua agar anak-anak tetap taat beragama, rukun, dan bekerja keras. Sementara gentong berisi air yang ditutup tampah melambangkan harapan atas rezeki yang penuh, tetapi tetap harus dikelola dengan hemat dan bijak.

Saat gentong dipecah dan uang disebar, warga memaknainya sebagai ajaran berbagi rezeki kepada sesama. Tradisi itu juga dipercaya menjadi penolak bala agar rumah tangga pengantin tetap harmonis.

Pak Ponjen memperlihatkan bagaimana budaya Jawa berpadu dengan nilai Islam. Unsur doa, selawat, dan Al-Fatihah menggantikan praktik lama yang berbau animisme, tanpa menghilangkan semangat guyub dalam adat setempat. Tradisi ini tidak hanya meriah, tetapi juga menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.***