Undangan hanya 20, yang datang 50 lebih. Di Sukamaju, relawan OPSHID dan warga tak sekadar bertemu—mereka saling menyatu. Dari mushala hingga dapur, semua terasa seperti rumah sendiri.
KOSONGSATU.ID—Ada yang berbeda di Desa Sukamaju, di titik pembangunan Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS) Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) dari Zona 1 pada Ahad (22/6) ini.
Saat acara tasyakuran peletakan batu pertama atau batu syukur digelar, masyarakat yang nimbrung melebihi ekspektasi.
Padahal tim relawan hanya mengundang 20 orang, tapi yang datang lebih dari 50 warga. Ditambah anggota OPSHID yang bertugas, total pesertanya mencapai sekitar 80 orang.
Suasana yang semula diperkirakan sederhana berubah menjadi hangat dan meriah.

Acara yang dipusatkan di mushala setempat itu dihadiri langsung oleh Lurah Sukamaju, Zaenal Abidin, plus perangkat desa. Mereka bahkan sudah tiba sejak pagi, jauh sebelum acara dimulai pukul 09.00 WIB.
Sambutan Pak Lurah, yang penuh dukungan dan semangat, turut mewarnai jalannya acara. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan dengan khidmat dalam tiga stanza, dipimpin oleh Tiwik Apriyani (18), putri Sumardi, penerima program Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS).

Yang juga istimewa, mushola tempat acara dilangsungkan dipinjamkan sepenuhnya, lengkap dengan fasilitas karpet dan pengeras suara.
Sejak awal kedatangan tim, relasi yang terjalin antara relawan dan warga terasa sangat alami. Klik itu seolah terjadi seketika—bukan karena formalitas, melainkan dari salam, senyum, dan sapaan yang tulus.
Tak lama kemudian, terbentuklah tim relawan khusus yang turut shalat berjamaah bersama warga di mushola setiap harinya.
Kedekatan juga terjalin dengan keluarga penerima rumah. Tim masak Zona 1, misalnya, tak segan-segan mengirimkan mi instan dan lauk pauk ke rumah Sumardi. Hubungan antarpribadi tumbuh menjadi solidaritas.
Bahkan, tetangga sekitar basecamp kerap menawarkan kamar mandi mereka kepada para relawan bila antrean di basecamp terlalu panjang.
Hubungan dengan aparat desa pun tak luput dari perhatian. Undangan kepada Pak Lurah tidak dikirim secara formal—melainkan melalui pendekatan personal dari tim lobi. Dan berhasil.
Pak Lurah hadir bukan karena protokoler, tapi karena rasa percaya dan hormat terhadap kegiatan OPSHID.
Sukamaju menghadirkan nuansa yang berbeda di tengah berjalannya program RPS. Bukan hanya karena keramahan warganya. Tapi karena sejak langkah pertama, di tanah ini, relawan datang bukan sebagai tamu—melainkan sebagai bagian dari keluarga.***




Tinggalkan Balasan