Sejarah antipenjajahan di Nusantara menyimpan satu epik tentang pergeseran nasib yang luar biasa: dari seorang budak belian di kasta sosial terbawah, menjadi adipati otonom yang sukses mempecundangi militer elite Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dia adalah Surawiroaji, yang dunia kenal sebagai Untung Suropati.


KOSONGSATU.ID–Keputusan Pemerintah RI menetapkan Suropati sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 106/TK/1975 pada 3 November 1975 bukanlah tanpa alasan. Di balik gelar kepahlawanannya, tersimpan narasi tentang represi kemanusiaan, konspirasi tingkat tinggi keraton Jawa, hingga pertempuran berdarah yang mengubah peta geopolitik abad ke-17.

Lahir di Bali, sekitar tahun 1660, Suropati kecil terampas kemerdekaannya. Pada usia tujuh tahun, ia dijual ke Batavia dan dibeli oleh perwira sekaligus pedagang VOC, Pieter Cnoll. Namun, roda nasibnya berubah drastis ketika ia dipenjara akibat hubungan asmara terlarang dengan Suzanne, putri majikannya.

Pada 1683, Suropati berhasil membobol penjara Batavia. Ia tidak melarikan diri sendirian, melainkan menggalang kelompok pelarian budak. Pemberontakan ini bukan sekadar pelarian kriminal, melainkan letupan atas pelanggaran kemanusiaan VOC.

Puncaknya terjadi pada 28 Januari 1684 di Cirebon dan Priangan. Dipicu oleh perlakuan kasar serdadu Belanda terhadap Pangeran Purbaya, pasukan Suropati mengamuk dan menghancurkan patroli VOC pimpinan Vaandrig Kuffeler. Insiden ini menjadi penanda awal bahwa perlakuan opresif kolonial mulai melahirkan perlawanan bersenjata yang terorganisir.

Konspirasi Kartasura: Mataram dan Operasi Senyap Suropati

Reputasi Suropati sebagai buronan mematikan justru menarik perhatian Susuhunan Amangkurat II dari Mataram. Dalam dinamika politik yang licik, Amangkurat II memainkan kebijakan dua muka: secara formal tunduk bersekutu dengan VOC, namun secara rahasia menjadikan Suropati sebagai proksi militernya.

Momen historis itu pecah pada 8 Februari 1686. Saat Kapten senior VOC, François Tack, tiba di Keraton Kartasura, ia disambut oleh jebakan mematikan.

“Di depan istana, dia [Kapten Tack] diserang oleh Surapati dan prajurit-prajurit Amangkurat II yang menyamar sebagai orang Bali. […] Tack menemui ajal pada 8 Februari 1686. Terdapat 20 luka pada tubuhnya,” catat sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2004.

Sedikitnya 74 serdadu elite Eropa tewas terbantai hari itu. Pembunuhan ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan pukulan telak yang mempermalukan VOC secara diplomatis, memaksa mereka menunda ekspansi di pedalaman Jawa, dan secara permanen meruntuhkan mitos superioritas kulit putih di Nusantara.

Membangun Negara Independen di Ujung Timur

Sebagai imbalan atas “jasa kotor” menghabisi Kapten Tack, Amangkurat II memberikan wilayah timur untuk Suropati. Manuskrip Babad Trunajaya-Surapati merekam perintah sang raja: “Sekarang Anda harus berjalan ke timur; wilayah Pasuruan kuhadiahkan kepadamu.”

Suropati menyingkir ke Jawa Timur dan sukses menaklukkan Pasuruan. Ia melepaskan status budaknya secara paripurna dengan mengangkat diri sebagai Adipati Aria Wiranegara. Selama kurang lebih 20 tahun (1686–1706), ia berhasil mempertahankan Pasuruan sebagai entitas independen yang merdeka dari kontrol VOC.

Peneliti Sejarah Nasional, Sri Wintala Achmad, merangkum pencapaian ini dengan tajam: “Dengan sistem feodalisme yang sangat kuat, seorang budak bernama Untung Surapati berhasil menjadi penguasa… Di sinilah letak keistimewaan Untung Surapati.”

Palagan Bangil dan Catatan Skeptis Sejarah

Kemandirian Pasuruan baru menemui ujungnya pada akhir tahun 1706. VOC yang sudah kehabisan kesabaran mengirim koalisi militer raksasa di bawah pimpinan Mayor Goovert Knol.

Koalisi yang melibatkan serdadu Belanda, pasukan Mataram pro-VOC, serta prajurit dari Madura dan Surabaya ini menggempur benteng Suropati di Bangil. Setelah bertempur habis-habisan sejak September, Untung Suropati tewas akibat luka parah pada 5 Desember 1706.

Meski perlawanan fisiknya usai, warisan sejarahnya terus hidup. Dalam bingkai jurnalistik historis, sosok Suropati memang sering berada di garis tipis antara fakta dan mitos. Catatan silsilah bangsawan Balinya lebih banyak bersandar pada cerita tutur Babad yang sarat akan bumbu legitimasi kekuasaan.

Namun, rekam jejak militernya yang mengagumkan sejak 1683 hingga 1706 sepenuhnya terverifikasi silang secara objektif melalui catatan harian Dagh-Register VOC.

Fakta sejarahnya tetap tidak berubah: ia adalah satu-satunya mantan budak yang sukses merancang operasi militer strategis, menewaskan komandan elite kolonial, dan membangun kerajaannya.***