Banjir mematikan di Sumatera membuka luka lama: kerusakan ekologis akibat keserakahan manusia.


Oleh: Faried Wijdan – Penulis KosongSatuID

BANJIR bandang yang menelan korban jiwa hingga ratusan di Sumatera menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus melakukan introspeksi mendalam.

Bukan sekadar anomali cuaca, siklus alam juga dipicu oleh kejahatan tangan-tangan manusia yang ugal-ugalan menjalankan usaha ekstraktif. Fenomena ini sekaligus mengungkap perilaku manusia munafik ekologis.

Pelayan Kealaman

Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullahil Mujtaba Mu’thi, menyatakan bahwa sebagai hamba Tuhan yang bersyukur (abdan syakura), manusia harus menjadi pelayan keimanan, kemanusiaan, dan kealaman.

Terkait pelayan kealaman, ulama yang kerap disapa Kiai Tar itu menegaskan bahwa manusia yang tinggal di muka bumi ini harus menyadari bahwa alam adalah titipan, bukan milik. Karena itu bumi yang indah dan kaya ini wajib dijaga dan dirawat.

Pohon sebagai Perlambang Semesta

Dalam falsafah spiritual Nusantara, manusia menghormati dan berterima kasih kepada alam—bukan untuk menyembahnya, tetapi menghormatinya sebagai sesama makhluk Tuhan.

Alam diciptakan boleh dimanfaatkan selama tidak dirusak dan tidak menghancurkan kehidupan. Ketika kayu (hayyu) dirusak oleh ketamakan, maka hidup (hayyu) pun dapat rusak.

Dalam tradisi Islam, semesta dilambangkan sebagai pohon, dikenal sebagai syajaratul kawni (pohon kosmik atau pohon alam semesta). Simbolisme ini menggambarkan struktur wujud, dari Allah hingga makhluk yang paling rendah.

Dalam khazanah Nusantara, ada pendapat bahwa istilah “kayu” berasal dari penyerapan istilah Arab al-hayyu (hidup), salah satu asmaul husna. Dalam sebuah serat kuno tertulis, “Kayu iku jenengé Allah, améh wujudé sakalir,” atau “Kang dingin Ingsun anitahake Kayu.” Karena itu semesta digambarkan sebagai pohon kehidupan.

Orang-orang kuno menghormati pohon tua dan besar karena memahami bahwa pohon adalah unsur penting yang menjaga kehidupan tetap berjalan baik. Ketika pohon dikeramatkan, maksudnya adalah menjaga kehidupan yang sakral, sebab hidup adalah manifestasi Tuhan lewat asma al-Hayyu.

Dalam wayang Jawa, terdapat Kayon, berasal dari kata kayu yang diberi akhiran -an, melambangkan awal mula hidup. Pohon juga disebut wit, sering ditafsirkan sebagai kependekan dari wiwit (permulaan). Maka dikenal istilah Wit Ana—Pohon Ada, Pohon Eksistensi.

Akar pohon itu adalah al-Haqq, dan buahnya adalah Insan Kamil, dengan puncaknya Muhammad.

Dalam ilmu ekologi dan botani, pepohonan adalah paru-paru bumi serta pakunya. Pohon memiliki nyawa dan bisa mati seperti manusia. Menjaga kelestarian hutan berarti merawat kehidupan yang dianugerahkan oleh al-Hayyu, Tuhan Yang Maha Tak Kasat Mata (al-Bathin).

Dalam pandangan sufi Melayu dikatakan, “Hayyu namanya Kayu, tumbuh di dalam batin.”

Alam bukan semata objek, tetapi juga subjek. Karena itu masyarakat Nusantara menghormati laut, hutan, gunung, dan ruang alam lainnya melalui tradisi seperti sedekah bumi atau sedekah laut.

Pohon tidak hanya dimanfaatkan manusia, tetapi juga “aktif” menjaga kehidupan—mengayomi manusia, burung, serangga, semut, bahkan menjadi tempat bagi makhluk gaib.

Melalui berbagai tradisi luhur itu, manusia Nusantara menjaga hubungan baik dengan alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.