Kapitalisme, Setan yang Berpakaian Modern
Dalam bahasa religius, kapitalisme adalah sistem setaniyah — sistem yang memupuk hawa nafsu, menuhankan materi, dan menyingkirkan nilai.
Dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Namun, manusia modern justru menjadikan “berlebih-lebihan” sebagai cita-cita. Ukuran keberhasilan diukur dari banyaknya barang, bukan berkahnya hidup. Kita memuja gaya hidup, tapi kehilangan makna hidup.
Kapitalisme berhasil bukan karena sistemnya sempurna, tapi karena ia bermain di wilayah terdalam nafsu manusia. Ia tahu cara membisikkan keinginan yang tak berkesudahan — seperti setan yang pandai merayu Adam untuk mencicipi buah kuldi.
Jalan Keluar: Antara Iman dan Gotong Royong
Islam, sejak awal, menawarkan sistem ekonomi yang adil dan seimbang. Nabi Muhammad Saw. menetapkan batas keuntungan dagang tak lebih dari 30 persen dan mewajibkan zakat 2,5 persen dari keuntungan itu untuk mereka yang kekurangan. Prinsipnya jelas: keuntungan boleh, keserakahan tidak.
Konsep ini selaras dengan gagasan sosialisme: “dari masing-masing sesuai kemampuannya, untuk masing-masing sesuai kebutuhannya.” Tapi Islam menambahkan dimensi spiritual — niatnya bukan hanya keadilan sosial, tapi juga penyucian jiwa dari rakus dan ego.
Sukarno pernah mencoba merumuskan jalan tengah itu dalam bentuk Sosialisme Indonesia: “Sosialisme kami adalah campuran — spiritual dari Islam dan Kristen, ilmiah dari Marx, dan politik dari Deklarasi Amerika. Kami taburi gotong royong dan hasilnya adalah Marhaenisme.”
Gotong royong, bagi Sukarno, bukan sekadar kerja sama, tapi perlawanan terhadap individualisme kapitalistik. Ia adalah ruh ekonomi yang berakar pada cinta kasih, bukan pada kompetisi.
Melawan Setan dengan Syukur
Kapitalisme tidak akan runtuh hanya karena teori, sebab ia bersemayam dalam jiwa manusia. Untuk melawannya, kita harus memerangi “setan kecil” di dalam diri: keinginan untuk memiliki lebih, untuk merasa lebih, untuk menang atas sesama.
Tuhan tidak melarang kita kaya. Yang Ia larang adalah menyembah kekayaan itu.
Dunia memang diciptakan untuk dinikmati, tapi bukan untuk dipertuhankan. Karena pada akhirnya, seperti kata Imam Al-Ghazali dalam Misykatul Anwar, cahaya sejati bukan datang dari benda, tapi dari hati yang bersih dari kerakusan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti berlari di atas roda kapitalisme dan mulai bertanya: Apakah kita masih manusia yang memiliki dunia, atau dunia yang telah memiliki kita?***





1 Komentar