Sukarno dan Peringatan dari Dunia Ketiga
Di Indonesia, kritik terhadap kapitalisme juga bergema sejak awal kemerdekaan. Sukarno, dalam Indonesia Menggugat dan pidato-pidato revolusionernya, menegaskan bahwa imperialisme modern tidak lagi datang dengan kapal perang, tapi dengan modal, investasi, dan utang.
Negara-negara industri Barat, kata Sukarno, menanamkan modal ke negeri-negeri miskin untuk menguasai pasar dan sumber daya. Itulah yang ia sebut distribusi dan perkembangbiakan kapital di negeri lain.
Dengan gaya lugasnya, Bung Karno menyebut sistem itu “usaha untuk membuat bangsa lain tergantung, agar modal mereka tidak beku.” Karena jika modal berhenti berputar, kapitalisme mati. Maka negeri-negeri Dunia Ketiga — seperti Indonesia — dijadikan tempat parkir modal, ladang tenaga murah, dan pasar konsumsi.
Ironisnya, setelah Sukarno tumbang pada 1965–1966, Indonesia justru kembali membuka pintu bagi modal asing. Kapitalisme yang dulu kita lawan, kini kita sembah dengan nama baru: investasi.
Kapitalisme Digital: Kolonialisme Generasi Baru
Jika dulu penjajahan dilakukan lewat pabrik dan perkebunan, hari ini penjajahan dilakukan lewat data dan algoritma.
Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, dan Amazon berperan layaknya imperium baru. Mereka tidak menjajah wilayah, tapi kesadaran. Mereka tidak mengambil rempah-rempah, tapi menggali perhatian dan privasi kita untuk dijual kembali sebagai komoditas.
Manusia menjadi “produk” dari dunia digital yang diciptakannya sendiri. Setiap klik, setiap pencarian, setiap “like” di media sosial menjadi tambang emas bagi korporasi global.
Inilah kapitalisme versi 5.0 — sistem yang tidak lagi menjual barang, tapi menjual manusia kepada dirinya sendiri.
Jika Adam Smith hidup hari ini, ia mungkin akan menyebut algoritma sebagai “tangan tak terlihat” baru. Tapi, tangan itu bukan milik Tuhan, melainkan milik modal.
Dari Garam ke Gadget: Ilusi Diferensiasi
Dalam sejarah kapitalisme, salah satu tonggak penting adalah diferensiasi produk — gagasan bahwa dua barang yang sama bisa dijual berbeda hanya karena kemasannya.
Dulu, garam yang sama dijual dalam botol kecil dengan label “garam premium”. Sekarang, ponsel dengan spesifikasi identik dijual mahal hanya karena logonya menggigit.
Diferensiasi inilah jantung kapitalisme konsumtif: menciptakan kebutuhan yang tak pernah ada sebelumnya. Iklan dan media menjadi senjata. “Sewa mobil impianmu,” “belilah kebahagiaan dalam 12 bulan cicilan,” “upgrade hidupmu.” Semua membujuk kita untuk mengejar kesenangan fisik yang semu.
Seperti dikisahkan dalam film Apocalypto (2006), manusia yang telah memiliki segalanya masih merasa ada “lubang besar dalam dirinya” — lubang yang tak akan pernah terisi. Di situlah kapitalisme bekerja paling efektif: menukar spiritualitas dengan sensasi, dan rasa syukur dengan rasa kurang.





1 Komentar