Benarkah Soekarno penyebar Ahmadiyah? Simak kisah Bung Karno menepis tuduhan sambil membedah pandangannya soal rasionalitas.
KOSONGSATU. ID – Rasa gundah tiba-tiba menyelimuti Soekarno pada pengujung November 1935 di Ende, Flores. Pikirannya terbebani oleh secarik surat dari sahabatnya, A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) di Bandung.
Sang kawan membawa kabar mengejutkan: surat kabar Pemandangan menuduh Soekarno mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi dan bertindak sebagai propagandis utamanya.
Mengingat distribusi koran yang lambat ke tempat pengasingannya, Bung Karno belum membaca langsung berita tersebut. Namun, ia memercayai peringatan sahabatnya. Tudingan ini jelas tidak masuk akal baginya. Bagaimana mungkin seorang tahanan politik yang ruang geraknya dibatasi kolonial bisa berkeliling Sulawesi menyebarkan ajaran agama?
Menepis Tudingan Lewat Mata Pena
Tidak ingin rumor semakin liar, Sang Proklamator segera mengambil pena. Ia menuangkan keresahannya melalui sebuah tulisan bantahan bertajuk “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi” yang kelak termuat dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Ia secara tegas meminta A. Hassan membantunya membersihkan nama baik di media.
“Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandisnya, apalagi buat bagian Celebes! Sedang plesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” tegas Soekarno.
Polisi rahasia pemerintah kolonial (PID) memang sering menggunakan isu-isu sensitif seperti Ahmadiyah untuk memecah belah pergerakan nasional. Menyematkan label propagandis kepada tokoh pergerakan adalah taktik adu domba yang lazim mereka pakai pada masa itu.
Objektivitas Bung Karno: Mengambil Madu, Membuang Racun
Meski menolak mentah-mentah label sebagai anggota Jamaah Ahmadiyah, Soekarno menunjukkan kedewasaan intelektualnya. Ia tidak membenci apalagi memberangus kelompok tersebut. Selama masa pengasingan, minatnya terhadap studi agama Islam memang melonjak tajam. Ia menjelajahi ratusan literatur, mulai dari buku terbitan Muhammadiyah, Persis, hingga karya-karya cendekiawan Ahmadiyah seperti Mohammad Ali dan Chawadja Kamaloedin.
Bung Karno secara terbuka memuji beberapa aspek literatur Ahmadiyah. Ia mengagumi rasionalisme, pemikiran yang luas (broadmindedness), dan modernisme yang mereka tawarkan dalam membedah Islam.
Namun, objektivitas Soekarno tetap terjaga. Sejarawan Lukman Surya dan Nur Kholik dalam karya mereka, Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam: Ulasan Pemikiran Soekarno, mencatat bahwa Soekarno menempatkan dirinya pada posisi netral yang kritis.




Tinggalkan Balasan