Jurnalis Nasir Tamara membeberkan alasan mengapa Iran tak kunjung runtuh meski ditekan sanksi dan ancaman Amerika puluhan tahun.
KOSONGSATU. ID – Hanya sedikit orang Indonesia yang memiliki pengalaman sedekat Nasir Tamara dengan sejarah modern Iran. Jurnalis sekaligus penulis kawakan ini pernah menumpang pesawat yang sama dengan Ayatullah Khomeini saat terbang dari Paris menuju Tehran. Ia menyaksikan langsung denyut revolusi Iran dari dalam.
Baru-baru ini, Nasir berbagi pandangan mendalam di siniar Helmy Yahya Bicara mengenai satu pertanyaan besar yang sering muncul: mengapa negara ini tak bisa ditundukkan hingga sekarang?
Akar Konflik dan Senjata Berupa Kata-Kata
Banyak orang mengira perseteruan Iran dan Amerika Serikat berawal dari revolusi tahun 1979. Nasir meluruskan fakta ini.
Percikan konflik sejatinya menyala sejak tahun 1953. Saat itu, CIA mengkudeta Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh—pemimpin pilihan rakyat yang demokratis—dan menempatkan Shah Reza Pahlevi sebagai penguasa yang tunduk pada kepentingan Barat.
Akumulasi kemarahan rakyat bermula dari sana, lalu meledak 26 tahun kemudian. Menariknya, Ayatullah Khomeini memimpin perlawanan ini bukan dari medan tempur, melainkan dari sebuah desa kecil berjarak 30 kilometer dari Paris. Ia tidak memegang senjata api dan tidak memiliki pasukan militer.
Khomeini menggerakkan massa melalui pidato yang ia rekam di kaset. Rekaman tersebut pendukungnya selundupkan ke Iran dan putar di masjid-masjid. Sepuluh hari setelah ia mendarat di Tehran, tentara dan polisi bersenjata justru menyerahkan senjata mereka secara sukarela. Nasir menyebut fenomena ini sebagai kekuatan kata-kata yang mampu menggerakkan dunia.
Mentalitas Imperium dan Peradaban Tua
Dunia sering lupa bahwa Iran, atau Persia, mewarisi salah satu peradaban tertua di bumi. Bangsa ini memiliki rekam jejak panjang, mulai dari menyelamatkan kaum Yahudi 2.500 tahun lalu di bawah kepemimpinan Raja Darius, hingga membangun jalur perdagangan lintas benua sebelum negara-negara modern lahir.




Tinggalkan Balasan