Dalam konteks ini, Pancasila kerap hadir sebagai rujukan normatif, tetapi belum sepenuhnya menjadi fondasi epistemik yang membentuk cara berpikir siswa.
Global Citizenship di Ruang Kelas
Pengaruh ideologi asing paling kasat mata terlihat pada sekolah-sekolah yang mengadopsi kurikulum internasional seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB). Kurikulum ini membawa nilai global citizenship, universal values, dan multikulturalisme—sebuah kerangka yang dirancang untuk membentuk warga dunia.
Dalam praktik di Indonesia, kerangka ini menciptakan hierarki halus: sejarah dunia lebih dominan daripada sejarah lokal, isu global dipandang lebih relevan daripada persoalan kebangsaan, dan identitas nasional bergeser menjadi salah satu pilihan identitas, bukan fondasi utama.
Normalisasi Lewat Mata Pelajaran
IPS, Ekonomi, dan Sejarah menjadi medan paling efektif bagi normalisasi ideologi. Teori ekonomi neoklasik diajarkan sebagai dasar berpikir; pembangunan diukur melalui pertumbuhan dan efisiensi; modernitas Barat tampil sebagai horizon tujuan universal.
Tanpa pernah menyebut istilah “kapitalisme”, siswa menyerap gagasan bahwa pasar bebas adalah mekanisme alamiah dan persaingan adalah keniscayaan. Inilah yang dalam kajian pemikiran kritis—seperti dikemukakan Antonio Gramsci—disebut sebagai dominasi melalui akal sehat: ideologi bekerja tanpa terasa sebagai ideologi.
Bahasa sebagai Jalur Ideologis
Bahasa pengantar pendidikan turut memperdalam proses ini. Bahasa Inggris menjadi simbol mutu dan prestise, sejalan dengan tren globalisasi pendidikan. Penguasaan bahasa asing diasosiasikan dengan kecerdasan dan masa depan, sementara bahasa daerah dipandang kurang relevan.
Yang berlangsung bukan sekadar pergeseran linguistik, melainkan pembentukan hierarki nilai: yang global dipersepsikan unggul, yang lokal dipandang tertinggal.
Ketika yang Halus Lebih Menentukan
Ideologi yang masuk secara kasar mudah dikenali dan dilawan. Sebaliknya, ideologi yang bekerja secara halus diterima tanpa resistensi, dianggap netral dan ilmiah, lalu membentuk cara berpikir generasi secara jangka panjang. Sekolah pun berfungsi sebagai mesin reproduksi nilai global yang berjalan otomatis.
Menjadi Subjek, Bukan Konsumen
Persoalannya bukan pada keterbukaan terhadap dunia. Indonesia tidak mungkin—dan tidak perlu—menutup diri dari pengetahuan global. Tantangannya adalah memastikan pendidikan nasional tidak sekadar menjadi konsumen ideologi pendidikan global.
Pancasila dan kebudayaan perlu ditempatkan sebagai kerangka berpikir, bukan sekadar tema kurikulum. Setiap konsep global perlu dikritisi sebelum diadopsi. Sekolah harus kembali menjadi ruang pembentukan manusia Indonesia—bukan hanya tenaga kerja global.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa tetap sama: ketika siswa lebih fasih membicarakan isu global daripada persoalan di sekitarnya, ketika keberhasilan diukur dari adaptasi pasar, dan kebenaran ditentukan oleh standar luar, sekolah sedang mencerdaskan—atau sedang membentuk manusia sesuai pesanan zaman? – Bersambung




Tinggalkan Balasan