Namun secara epistemologis, pendekatan tersebut berakar pada tradisi positivisme Barat, yang menempatkan kebenaran pada apa yang terukur dan dapat diverifikasi secara empiris. Dalam praktik kelas, pengetahuan berbasis tradisi lisan, kearifan lokal, dan pengalaman spiritual kerap sulit diposisikan setara dengan “ilmu” dalam buku teks.
Pesan implisitnya bekerja perlahan namun konsisten: yang ilmiah adalah yang modern dan global; yang lokal menjadi pelengkap, bahkan sisa masa lalu.
Kebebasan yang Terbingkai Global
Kurikulum Merdeka hadir dengan jargon kebebasan belajar, diferensiasi, dan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Dokumen resminya menekankan fleksibilitas dan otonomi satuan pendidikan.
Namun kerangka berpikir yang melandasinya tetap berkelindan dengan paradigma pendidikan global—self-directed learning, critical thinking, dan kesiapan menghadapi masa depan ekonomi dunia. Paradigma ini sejalan dengan gagasan lembaga internasional seperti OECD, yang secara konsisten memposisikan pendidikan sebagai instrumen penyiapan sumber daya manusia adaptif dan kompetitif bagi ekonomi global.
Dalam konteks ini, Pancasila kerap hadir sebagai rujukan normatif, tetapi belum sepenuhnya menjadi fondasi epistemik yang membentuk cara berpikir siswa.
Global Citizenship di Ruang Kelas
Pengaruh ideologi asing paling kasat mata terlihat pada sekolah-sekolah yang mengadopsi kurikulum internasional seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB). Kurikulum ini membawa nilai global citizenship, universal values, dan multikulturalisme—sebuah kerangka yang dirancang untuk membentuk warga dunia.
Dalam praktik di Indonesia, kerangka ini menciptakan hierarki halus: sejarah dunia lebih dominan daripada sejarah lokal, isu global dipandang lebih relevan daripada persoalan kebangsaan, dan identitas nasional bergeser menjadi salah satu pilihan identitas, bukan fondasi utama.
Normalisasi Lewat Mata Pelajaran
IPS, Ekonomi, dan Sejarah menjadi medan paling efektif bagi normalisasi ideologi. Teori ekonomi neoklasik diajarkan sebagai dasar berpikir; pembangunan diukur melalui pertumbuhan dan efisiensi; modernitas Barat tampil sebagai horizon tujuan universal.




Tinggalkan Balasan