Bahkan, Presiden Trump harus angkat bicara dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak tahu-menahu mengenai serangan tersebut.

​Cetak Biru Sabotase Tiga Dekade

​Pernyataan Kent selaras dengan rekam jejak kebijakan luar negeri masa lalu. Pada tahun 1996, sekelompok neokonservatif menyusun dokumen kebijakan “A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm” untuk Benjamin Netanyahu.

​Dokumen ini secara terang-terangan menolak solusi “tanah untuk perdamaian”. Sebaliknya, mereka mendorong konfrontasi militer dan pergantian rezim di negara-negara seperti Irak, Suriah, dan Iran. Tiga dekade berlalu, dunia masih menanggung dampak buruk dari dokumen tersebut. Nyawa ribuan tentara Amerika melayang di Irak, sementara Suriah hancur lebur oleh perang saudara.

​Menuntut Evaluasi Kebijakan Washington

​Bagian paling menyayat hati dari pengakuan Kent adalah pengorbanan pribadinya. Ia kehilangan sang istri, Shannon Kent, dalam sebuah perang yang kini ia sebut sebagai “konflik buatan Israel”. Darah dan dana Amerika Serikat terus mengalir untuk mendanai agenda militer negara lain, sementara kredibilitas dan stabilitas ekonomi AS justru menjadi korban.

​Kesaksian Joe Kent menuntut tindak lanjut yang serius, bukan sekadar bantahan refleksif atau serangan personal terhadapnya. Publik Amerika Serikat berhak mengetahui kebenaran di balik kebijakan luar negeri mereka. Washington harus segera mengevaluasi ulang hubungan strategis ini agar mereka tidak terus-menerus mendanai sabotase terhadap perdamaian dunia.***