Mantan Direktur NCTC Joe Kent mundur dan mengungkap bagaimana manuver Israel merusak perdamaian Timur Tengah demi kepentingannya.
KOSONGSATU. ID – Keputusan mundur Joe Kent dari jabatan Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional (NCTC) mengguncang publik Washington. Veteran Pasukan Khusus Angkatan Darat ini tidak sekadar mundur. Ia membuka tabir gelap yang selama ini jarang tersentuh kritik: manuver Israel yang secara sengaja menggagalkan upaya perdamaian di Timur Tengah.
Sebagai suami berstatus Gold Star yang kehilangan istrinya akibat bom bunuh diri di Suriah, Kent memiliki kredibilitas tak terbantahkan. Ia menegaskan bahwa Israel melihat perdamaian sebagai ancaman terhadap agenda ekspansi mereka.
Membungkam Jalur Diplomasi
Bukti paling nyata dari sabotase ini terlihat dari pembunuhan Ali Larijani, Penasihat Keamanan Nasional Iran sekaligus negosiator nuklir. Kent membeberkan bahwa Larijani adalah sosok pragmatis yang sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Namun, alih-alih menyambut niat baik tersebut, Israel justru menyingkirkan Larijani dan timnya lewat serangan terarah. Manuver ini mengirimkan pesan mematikan: siapa pun yang berani merintis jalur negosiasi akan menjadi target. Israel secara aktif menutup pintu diplomasi dan sengaja memilih jalur eskalasi konflik.
Krisis Energi sebagai Senjata Strategis
Selain membidik individu, Israel juga menyasar infrastruktur vital untuk mengacaukan stabilitas global. Pada 18 Maret 2026, militer Israel menggempur ladang gas Pars Selatan milik Iran yang memasok 70% kebutuhan domestik negara tersebut.
Akibatnya, Iran membalas dengan menyerang pusat LNG Qatar di Ras Laffan. Serangan balasan ini melumpuhkan 17% kapasitas ekspor Qatar dan memicu lonjakan harga gas global secara ekstrem.
Pasar energi yang stabil sebenarnya mampu menekan potensi konflik. Saling ketergantungan ekonomi antarnegara sering kali menjadi kunci perdamaian abadi. Dengan menghancurkan infrastruktur ini, Israel memastikan bahwa perdamaian berbasis kerja sama ekonomi tidak akan pernah terwujud.
Bahkan, Presiden Trump harus angkat bicara dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak tahu-menahu mengenai serangan tersebut.
Cetak Biru Sabotase Tiga Dekade
Pernyataan Kent selaras dengan rekam jejak kebijakan luar negeri masa lalu. Pada tahun 1996, sekelompok neokonservatif menyusun dokumen kebijakan “A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm” untuk Benjamin Netanyahu.
Dokumen ini secara terang-terangan menolak solusi “tanah untuk perdamaian”. Sebaliknya, mereka mendorong konfrontasi militer dan pergantian rezim di negara-negara seperti Irak, Suriah, dan Iran. Tiga dekade berlalu, dunia masih menanggung dampak buruk dari dokumen tersebut. Nyawa ribuan tentara Amerika melayang di Irak, sementara Suriah hancur lebur oleh perang saudara.
Menuntut Evaluasi Kebijakan Washington
Bagian paling menyayat hati dari pengakuan Kent adalah pengorbanan pribadinya. Ia kehilangan sang istri, Shannon Kent, dalam sebuah perang yang kini ia sebut sebagai “konflik buatan Israel”. Darah dan dana Amerika Serikat terus mengalir untuk mendanai agenda militer negara lain, sementara kredibilitas dan stabilitas ekonomi AS justru menjadi korban.
Kesaksian Joe Kent menuntut tindak lanjut yang serius, bukan sekadar bantahan refleksif atau serangan personal terhadapnya. Publik Amerika Serikat berhak mengetahui kebenaran di balik kebijakan luar negeri mereka. Washington harus segera mengevaluasi ulang hubungan strategis ini agar mereka tidak terus-menerus mendanai sabotase terhadap perdamaian dunia.***





Tinggalkan Balasan