Masalahnya, pertumbuhan akses tidak selalu disertai peningkatan pengetahuan. OJK mencatat tingkat literasi pasar modal Indonesia pada 2025 baru 17,78 persen, sementara jumlah investor dan akun digital terus meningkat.

“Masih ada celah yang dapat dimanfaatkan” untuk menawarkan investasi palsu, kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi dalam kegiatan edukasi pada Mei 2026. OJK

6. Blockchain Menjadi Lebih Murah dan Mudah Digunakan

Pada masa awal, penggunaan blockchain sering berarti menunggu lama dan membayar biaya transaksi tinggi. Hambatan itu berkurang dengan berkembangnya jaringan lapis kedua atau Layer-2.

Jaringan seperti Arbitrum, Optimism, Base, zkSync, dan Starknet memproses banyak transaksi di luar jaringan utama sebelum mengirimkan ringkasannya. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas sekaligus menekan biaya.

Perbaikan tersebut memungkinkan lahirnya layanan keuangan terdesentralisasi, permainan berbasis blockchain, pasar token, pembayaran digital, dan aplikasi yang dipadukan dengan kecerdasan buatan.

Namun, semakin kompleks sebuah ekosistem, semakin panjang pula rantai risikonya. Pengguna tidak hanya bergantung pada blockchain utama, tetapi juga pada jembatan penghubung, kontrak pintar, aplikasi, penerbit token, dan pengelola dompet.

OECD dalam Asia Capital Markets Report 2026 mengingatkan bahwa keterhubungan kripto dengan pasar keuangan konvensional juga membuka risiko penularan. Sumbernya antara lain volatilitas, likuiditas yang tidak seimbang, tata kelola yang tidak transparan, dan kualitas aset cadangan stablecoin.

Bertambahnya Akun Bukan Berarti Risikonya Mengecil

Enam faktor tersebut menjelaskan mengapa lebih banyak orang membuka pintu menuju kripto. ETF memberikan legitimasi, Bitcoin menawarkan cerita kelangkaan, tokenisasi memperluas jenis aset, staking menjanjikan imbalan, media sosial mempercepat perhatian, dan teknologi membuat transaksi lebih praktis.

Namun, data Indonesia memperlihatkan perbedaan antara minat dan intensitas investasi. Dari Januari hingga Mei 2026, jumlah akun bertambah dari 20,70 juta menjadi 22,40 juta—kenaikan sekitar 1,70 juta akun—ketika transaksi bulanan justru turun dari Rp29,24 triliun menjadi Rp23,01 triliun.