Bagi investor ritel, janji utamanya adalah kepemilikan pecahan. Aset bernilai besar secara teoritis dapat dibagi menjadi unit lebih kecil sehingga ambang investasinya turun.

Namun, token bukan otomatis bukti kepemilikan yang sah. Nilainya tetap bergantung pada penerbit, kustodian, dokumen hukum, likuiditas pasar, dan kemampuan pemegang token menagih aset yang mendasarinya.

[GRAFIK: Perbandingan alur pembelian obligasi konvensional dan obligasi yang ditokenisasi, termasuk peran penerbit, kustodian, blockchain, dan investor]

4. Staking Mengubah Aset Menganggur Menjadi Imbalan

Pada jaringan seperti Ethereum, pemilik aset dapat mengunci atau mendelegasikan token untuk membantu proses validasi transaksi. Sebagai gantinya, mereka berpeluang menerima imbalan.

Mekanisme ini disebut staking. Bagi investor, daya tariknya sederhana: aset tidak hanya diharapkan naik harga, tetapi juga menghasilkan tambahan token selama disimpan.

Akan tetapi, istilah “pendapatan pasif” dapat menyesatkan jika dipahami seperti bunga deposito. Imbalan dibayarkan dalam aset yang harganya dapat jatuh lebih dalam daripada hasil staking yang diperoleh.

Investor juga menghadapi risiko penguncian aset, kegagalan penyedia layanan, peretasan kontrak pintar, serta slashing—pemotongan aset akibat kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan validator.

Dengan demikian, staking memperluas kegunaan kripto, tetapi tidak mengubahnya menjadi pendapatan tetap tanpa risiko.

5. Media Sosial Mempercepat FOMO

Kripto diperdagangkan 24 jam sehari dan dibicarakan tanpa henti di media sosial. Kombinasi itu menciptakan lingkungan yang berbeda dari pasar tradisional dengan jam perdagangan terbatas.

Cerita keuntungan besar lebih mudah viral daripada pengalaman kerugian. Investor kemudian terdorong membeli karena takut tertinggal atau fear of missing out—disingkat FOMO.

Penelitian tentang FOMO pada aset digital menunjukkan bahwa dorongan tersebut dapat membuat investor meremehkan risiko. Kajian OECD juga menemukan bahwa investor ritel generasi baru cenderung lebih muda, lebih melek digital, dan lebih banyak mengandalkan media sosial daripada sumber keuangan tradisional.