Membebaskan dari Tahayul

Di beberapa bagian Madilog, Tan Malaka menunjukkan contoh konkret bagaimana cara berpikir non-materialistik menghambat kemajuan:

  • Seorang petani lebih percaya dukun daripada agronom.
  • Seorang guru takut mengajar ilmu karena dianggap “tidak religius”.
  • Seorang rakyat kecil pasrah karena percaya “penderitaan membawa surga”.

Tan Malaka menyebut ini sebagai bentuk penjajahan cara berpikir, yang lebih sulit diberantas daripada penjajahan fisik.

Materialisme: Jalan Menuju Kritis

Dengan materialisme, Tan Malaka mengajak pembaca Madilog untuk:

  • Bertanya “mengapa?”, bukan sekadar menerima.
  • Mencari fakta, bukan mendengar kabar angin.
  • Menganalisis struktur sosial, bukan menyalahkan nasib.

Ia percaya bahwa materialisme bukan sekadar filsafat, tapi alat perjuangan sosial. Sebuah kacamata untuk melihat dunia dengan lebih jernih, dan sekaligus lebih keras.

Dalam Dunia Penuh Tipuan, Materialisme Jadi Pelita

Delapan dekade setelah Madilog ditulis, kita hidup di zaman yang ironis: informasi begitu mudah diakses, tapi kebodohan justru makin merajalela. Hoaks, teori konspirasi, keyakinan buta, dan manipulasi agama kembali menjadi senjata politik.

Di sinilah relevansi Tan Malaka kembali bersinar. Materialisme ala Madilog bukan untuk menjadi anti-agama, melainkan anti-kebohongan.

Kita diajak untuk percaya pada kenyataan, bukan pada siapa yang paling nyaring bicara.

Madilog, Arah Pikiran Menuju Pembebasan

Tan Malaka memulai Madilog dengan membongkar mitos dan menanamkan keberanian untuk berpikir logis. Melalui pilar materialisme, ia ingin rakyat Indonesia mengerti bahwa perubahan sosial hanya mungkin jika kita mau melihat dunia sebagaimana adanya—bukan sebagaimana yang kita harapkan.

Dan dari situ, lahirlah pertanyaan paling revolusioner: “Kalau realitasnya begini, apa yang harus kita ubah?”bersambung


__Catatan Editor:

Tulisan ini merupakan bagian dari serial “Membaca Ulang Madilog” yang mengangkat pemikiran Tan Malaka sebagai warisan intelektual bangsa. Artikel disusun untuk keperluan edukatif dan memperluas ruang diskusi kritis di ruang publik.