“Kita harus berpijak di bumi, tidak menggantung di langit.” — Tan Malaka, Madilog
KOSONGSATU.ID—Ketika Tan Malaka menulis Madilog dalam persembunyiannya di Batavia, ia tidak sedang mengutip Karl Marx atau Hegel untuk pamer intelektualisme. Ia sedang menyusun fondasi berpikir baru bagi rakyat Indonesia—fondasi yang berpijak pada satu hal yang nyata: kenyataan itu sendiri.
Baginya, kemerdekaan sejati hanya mungkin lahir jika rakyat mampu berpikir berdasarkan kenyataan, bukan mitos atau harapan kosong. Inilah inti dari pilar pertama Madilog: Materialisme.
Mistik Tak Menyuburkan Kemerdekaan
Dalam masyarakat yang selama berabad-abad dijajah oleh kolonialisme dan feodalisme, cara berpikir yang berkembang adalah mistik, fatalistik, dan tak rasional. Seseorang bisa percaya bahwa kemiskinan adalah takdir Tuhan. Bahwa kemerdekaan akan datang kalau langit memberi “tanda-tanda”. Bahwa penderitaan harus diterima karena bagian dari suratan.
Tan Malaka melawan semua itu.
Ia menegaskan bahwa kenyataanlah yang harus dijadikan dasar berpikir dan bertindak. Tidak cukup hanya berdoa atau berharap. Sebuah bangsa harus mampu memahami hukum sebab-akibat, menganalisis struktur sosial, dan menyadari bahwa perubahan hanya bisa terjadi melalui kerja dan perjuangan nyata.
Materialisme ala Tan Malaka
Materialisme yang diusung Tan Malaka bukan sekadar doktrin ateis ala Uni Soviet. Ia menyaring pemikiran Descartes, Marx, Engels, dan bahkan Einstein, lalu meramunya dengan bahasa dan contoh-contoh lokal. Ia tidak menyalin ideologi Eropa, tetapi mengindonesiakan filsafat ilmiah.
Materialisme Tan Malaka bertumpu pada tiga pokok:
Realitas Lebih Penting dari Imajinasi
Dunia bukan ilusi. Kemiskinan, penjajahan, dan ketidakadilan adalah nyata. Dan hanya bisa dilawan dengan tindakan nyata.
Ilmu Sebagai Panduan Hidup
Sains dan pengetahuan bukan milik Barat. Ia milik siapa pun yang ingin merdeka dari ketertinggalan.
Tuhan Tidak Dihapuskan, Tapi Tidak Dijadikan Dalih
Tan Malaka tak menolak agama, tapi menolak cara berpikir yang menyalahgunakan Tuhan untuk membenarkan ketidakadilan.
Membebaskan dari Tahayul
Di beberapa bagian Madilog, Tan Malaka menunjukkan contoh konkret bagaimana cara berpikir non-materialistik menghambat kemajuan:
- Seorang petani lebih percaya dukun daripada agronom.
- Seorang guru takut mengajar ilmu karena dianggap “tidak religius”.
- Seorang rakyat kecil pasrah karena percaya “penderitaan membawa surga”.
Tan Malaka menyebut ini sebagai bentuk penjajahan cara berpikir, yang lebih sulit diberantas daripada penjajahan fisik.
Materialisme: Jalan Menuju Kritis
Dengan materialisme, Tan Malaka mengajak pembaca Madilog untuk:
- Bertanya “mengapa?”, bukan sekadar menerima.
- Mencari fakta, bukan mendengar kabar angin.
- Menganalisis struktur sosial, bukan menyalahkan nasib.
Ia percaya bahwa materialisme bukan sekadar filsafat, tapi alat perjuangan sosial. Sebuah kacamata untuk melihat dunia dengan lebih jernih, dan sekaligus lebih keras.
Dalam Dunia Penuh Tipuan, Materialisme Jadi Pelita
Delapan dekade setelah Madilog ditulis, kita hidup di zaman yang ironis: informasi begitu mudah diakses, tapi kebodohan justru makin merajalela. Hoaks, teori konspirasi, keyakinan buta, dan manipulasi agama kembali menjadi senjata politik.
Di sinilah relevansi Tan Malaka kembali bersinar. Materialisme ala Madilog bukan untuk menjadi anti-agama, melainkan anti-kebohongan.
Kita diajak untuk percaya pada kenyataan, bukan pada siapa yang paling nyaring bicara.




1 Komentar