“Dunia bukan barang mati, tapi proses hidup yang penuh pertentangan.” — Tan Malaka, Madilog
KOSONGSATU.ID—Setelah membongkar ilusi mistik melalui pijakan materialisme, Tan Malaka mengajak pembaca Madilog naik ke jenjang berikutnya: memahami bagaimana dunia bergerak dan berubah. Bagi Tan, perubahan bukan mukjizat, bukan pula hadiah dari langit atau hasil keberuntungan sejarah.
Dunia berubah karena adanya pertarungan terus-menerus di dalamnya—konflik antara yang lama dan yang baru, antara kekuasaan dan perlawanan, antara kepentingan yang bertubrukan. Inilah yang oleh Tan Malaka disebut sebagai dialektika: sebuah cara berpikir yang memandang kenyataan sebagai rangkaian proses yang tak pernah diam.
Menolak Dunia yang Membeku
Dalam lembar-lembar awal Madilog, Tan menantang kebiasaan berpikir yang mematungkan dunia. Ia menolak pandangan yang menganggap masyarakat statis dari masa ke masa, yang menjadikan adat sebagai sesuatu yang sakral walau tak lagi relevan, dan yang menganggap kekuasaan sebagai hal yang wajar karena “dari dulu memang begitu.” Baginya, semua yang hidup harus bergerak. Dan segala yang bergerak, pasti menimbulkan kontradiksi.
Tan menggunakan contoh-contoh konkret dari kehidupan: air mendidih karena benturan panas dan dingin, bukan karena sihir. Tumbuhan tumbuh karena perjuangannya melawan gravitasi dan cuaca, bukan karena mantra. Masyarakat berubah karena pertentangan nilai, kelas, dan kebutuhan—bukan karena wangsit atau karomah.
Ia menyebut dialektika sebagai ilmu tentang gerak dan kontradiksi. Meski mengacu pada Hegel, Marx, dan Engels, Tan tidak menyulap pemikiran mereka menjadi dogma. Ia justru menjelaskan dialektika dalam bahasa Indonesia yang cair, penuh ilustrasi sehari-hari.
Sejarah sebagai Arena Konflik, Bukan Kronologi
Dalam konteks sejarah, dialektika bagi Tan adalah lensa untuk membaca ulang kenyataan. Ia sangat kritis terhadap cara sejarah diajarkan pada masa itu: sekadar hafalan tanggal dan tokoh besar. Sejarah, katanya, bukan catatan kronologis, melainkan arena konflik. Ia bukan deretan peristiwa, tetapi pergulatan gagasan dan kepentingan.
Penjajahan, dalam pandangannya, tidak jatuh dari langit. Ia dibentuk oleh struktur ekonomi dan politik yang sistemik. Begitu pula perlawanan rakyat, yang bukan hasil letupan spontan, tapi akumulasi dari ketimpangan sosial dan kesadaran yang tumbuh perlahan. Bahkan revolusi, menurut Tan, bukan soal amarah massa, tapi reaksi logis terhadap situasi sosial yang membusuk dan menuntut ledakan.
Menerima Dunia yang Tidak Hitam Putih
Salah satu kekuatan dialektika terletak pada keberaniannya menerima kenyataan bahwa dunia tidak pernah sesederhana baik lawan buruk, benar lawan salah. Dunia ini penuh kontradiksi, dan itu bukan kelemahan—justru sumber kekuatannya.
Dalam satu individu bisa hidup dua sisi yang saling berlawanan. Apa yang hari ini tampak benar bisa esok hari menjadi salah, tergantung pada konteks. Bahkan musuh bisa tumbuh dari dalam diri kita sendiri—egoisme, rasa takut, atau kesetiaan membabi buta pada sistem yang menindas.
Tan mendorong rakyat untuk berani berpikir kritis terhadap segala hal, bahkan terhadap tokoh, simbol, dan ideologi yang selama ini dianggap tak tersentuh. Ia tak ragu untuk menggugat apa yang disakralkan oleh banyak orang. Dan karena itulah, ia dianggap berbahaya.
Dialektika dalam Politik: Menggugat Kompromi Semu
Pemikiran dialektik juga membentuk sikap politik Tan Malaka. Ia menilai bahwa gerakan rakyat tidak seharusnya berhenti pada kompromi yang memperhalus permukaan tanpa menyentuh akar. Dalam konteks itulah ia mengecam para pemimpin republik yang tergesa-gesa berunding dengan Belanda. Tan menganggap itu sebagai kekalahan intelektual: mengganti bendera, tapi membiarkan struktur kolonial tetap berdiri.
Revolusi, dalam pandangannya, bukan sekadar ekspresi kemarahan. Ia adalah kebutuhan logis ketika sistem sosial tidak lagi dapat diperbaiki, melainkan harus diganti. Jika struktur kekuasaan itu menindas, maka wajah siapa pun yang duduk di atasnya tak akan mengubah apa-apa.
Antara Buzzer dan Basis: Relevansi Dialektika Hari Ini
Kita hidup di zaman yang gemar menutupi konflik sosial dengan jargon “persatuan” dan “stabilitas.” Kritik dibungkam atas nama kesopanan. Ketimpangan dibenarkan lewat dalih hukum alam. Di saat seperti itu, warisan Tan Malaka justru semakin terasa penting.
Dialektika tidak mengajak kita membenci perbedaan. Ia mengajak kita memahami bahwa pertentangan adalah bagian dari kehidupan. Perbedaan pendapat adalah sumber pencerahan. Kritik bukan pengkhianatan, melainkan napas demokrasi. Ketimpangan tidak akan lenyap hanya dengan doa dan simbol, melainkan harus dilawan dengan kesadaran yang aktif dan pikiran yang bergerak.
Menjadi Penggerak, Bukan Penonton
Dengan dialektika, Tan Malaka ingin mencabut bangsa ini dari kepasrahan. Ia ingin agar rakyat melihat kenyataan sebagai sesuatu yang bisa ditafsir ulang, dipahami secara kritis, dan bahkan diintervensi secara sadar. Ia ingin membentuk manusia-manusia yang sanggup memosisikan diri bukan sebagai korban sejarah, tapi sebagai subjek yang menggugah sejarah.
Bagi Tan, sejarah bukan panggung yang harus ditonton, melainkan arena yang harus digerakkan.
“Kita harus menjadi penggerak sejarah, bukan penonton pasrah.”— bersambung
__Catatan Editor:
Tulisan ini merupakan bagian dari serial “Membaca Ulang Madilog” yang mengangkat pemikiran Tan Malaka sebagai warisan intelektual bangsa. Artikel disusun untuk keperluan edukatif dan memperluas ruang diskusi kritis di ruang publik.






1 Komentar