
“Getaran” Itu Hingga Luar Jawa
Di Palembang, Sumatera Selatan, semangat Sumpah Pemuda ke-97 dijadikan momentum pembangunan.
Ketua OPSHID Palembang, Ishadi Chandra Budiman, menjelaskan, “Kalau tidak ada Sumpah Pemuda, mungkin Indonesia belum merdeka. Wujud syukur kami adalah membangun rumah layak huni bagi bangsa yang belum beruntung.”

Haryanti (54), seorang ibu tunggal di Palembang yang merupakan penerima program, tak kuasa menahan air mata ketika rumahnya dipilih untuk dibangun.
“Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur. Saya tidak bisa berkata-kata,” ucapnya.
Di Tanahlaut, Kalimantan Selatan, rumah berukuran 5 x 7 meter mulai dibangun untuk Tukimin. Ia tinggal bersama tiga anak dan seorang menantu yang menyandang keterbatasan fisik dan mental.
“Kami membantu warga yang kehidupannya serba kekurangan,” kata Ketua Pemuda Shiddiqiyyah setempat, Erik Yulianto.

Ketua RT 03 Talang Aman, Palembang, Ifan Rifanto, menyebut program OPSHID benar-benar membawa manfaat. “Rumah yang tadinya papan kumuh kini jadi rumah layak. Warga ikut mendukung, bahkan ikut jaga pembangunan siang dan malam,” katanya.
Bersama lima wilayah yang diceritakan sekilas di atas, DPD OPSHID di berbagai wilayah lain di Indonesia, yang tersebar di 17 provinsi, pun mengerjakan hal serupa. Serempak.
Dan inilah megaproyek gotong royong kas organisasi ini.
Program Rumah Syukur Layak Huni bukan sekadar soal dinding, atap, atau lantai. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup.
Di tengah krisis, anak-anak muda ini membuktikan bahwa rasa syukur bisa diwujudkan dengan memberi harapan baru bagi mereka yang nyaris putus asa.***





1 Komentar