Kementerian Pertanian dan BGN memperkuat rantai pasok pangan agar kebutuhan MBG membuka pasar lebih luas bagi produk petani. Mekanisme dan target penyerapannya belum diumumkan.

KOSONGSATU.ID Kementerian Pertanian dan Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat kerja sama untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai penyerap hasil pertanian nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kolaborasi tersebut dibutuhkan untuk menjamin pasokan pangan MBG sekaligus memperluas pasar bagi produk petani.

“Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program MBG sekaligus memperkuat penyerapan hasil pertanian nasional demi meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa malam, 28 Juli 2026.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara pelepasan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian sekaligus tasyakuran atas pelantikannya sebagai Kepala BGN.

Amran meminta seluruh jajaran Kementerian Pertanian tetap mendukung Sudaryono dalam mengelola program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

“Program Makan Bergizi Gratis adalah offtaker komoditas pertanian yang diproduksi petani kita,” ujarnya.

Membuka Pasar Baru

Kebutuhan pangan MBG dalam jumlah besar dinilai dapat menciptakan permintaan yang lebih stabil terhadap beras, sayuran, telur, daging ayam, dan komoditas pangan lainnya.

Sebelum dilantik menjadi Kepala BGN, Sudaryono menyebut MBG sebagai pasar baru dengan tingkat konsumsi yang besar. Kementerian Pertanian, menurut dia, telah mengantisipasi peningkatan kebutuhan sejumlah bahan pangan, terutama protein hewani.

“Program MBG ini seperti Pac-Man, dia emerging market. Dia punya satu besaran konsumsi yang cukup besar,” kata Sudaryono pada Rabu, 22 Juli 2026.

Ia mengatakan Kementerian Pertanian berkepentingan memastikan rantai pasok MBG memberikan manfaat kepada petani, peternak, dan nelayan. Pemerintah juga perlu menjaga agar kenaikan permintaan tidak memicu kekurangan pasokan telur dan daging ayam.

Sudaryono menilai pengalamannya di Kementerian Pertanian dapat menjadi bekal untuk memperkuat hubungan antara BGN dan sektor produksi pangan. Kedua lembaga, kata dia, memiliki tujuan yang sama, yakni menjamin ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Mekanisme Penyerapan Belum Dijelaskan

Pemerintah belum mengumumkan target volume produk pertanian yang akan diserap melalui MBG. Nilai pembelian, mekanisme penetapan harga, dan pola kontrak dengan kelompok tani juga belum dijelaskan.

Belum diketahui pula berapa besar kebutuhan dapur MBG yang akan dipenuhi langsung oleh petani dan koperasi lokal dibandingkan melalui pemasok atau perusahaan berskala besar.

Kejelasan skema pengadaan akan menentukan seberapa besar peningkatan anggaran dan kebutuhan pangan MBG benar-benar mengalir kepada produsen di tingkat lokal.

Sudaryono memastikan perpindahannya ke BGN tidak akan memutus kerja sama yang telah dibangun bersama Kementerian Pertanian.

“Saya siap menjadi berlian berikutnya dan mencetak lebih banyak berlian, agar tidak ada petani yang susah dan tidak ada anak-anak yang kekurangan gizi,” kata Sudaryono.***