Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak Februari 2026 memicu guncangan global pada sektor energi dan pangan. Kelumpuhan jalur pelayaran Selat Hormuz serta lonjakan biaya logistik hingga 70 persen mengancam rantai pasok pupuk dunia, mendorong Indonesia mencari solusi berbasis pangan lokal.
KOSONGSATU.ID –Wakil Direktur Eksekutif World Food Programme (WFP) PBB, Carl Skau, memperingatkan lonjakan biaya pangan dan bahan bakar global dapat membuat jutaan keluarga tidak mampu membeli makanan pokok.
Negara-negara pengimpor pangan disebut paling rentan terdampak.
Ketegangan di Timur Tengah yang memuncak pada akhir Februari 2026 berdampak langsung pada perekonomian Indonesia.
Sebab, sepertiga perdagangan pupuk laut dunia harus melewati Selat Hormuz. PBB mencatat harga urea global meroket sekitar 35 persen sejak perang berkecamuk.
Insiden kapal kargo Thailand yang dihantam serangan di perairan Selat Hormuz pada 11 Maret 2026 memperparah situasi.
Premi asuransi risiko perang melonjak, membuat biaya pengiriman logistik internasional melambung hingga 70 persen.
Dampaknya, margin keuntungan kilang minyak di kawasan Asia anjlok drastis. Pemangkasan produksi bahan bakar minyak terjadi antara 5 hingga 15 persen di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Petani lokal mulai tercekik tingginya biaya produksi akibat mahalnya pupuk.
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menyoroti fenomena ini. “Perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu produksi pangan dunia secara signifikan. Salah satu faktor utama adalah terganggunya ketersediaan pupuk,” ujarnya, 17 Maret 2026.
Uwi Ungu, Pangan Lokal yang Mandiri
Di tengah tekanan krisis, Indonesia mulai melirik beras analog berbahan uwi ungu (Dioscorea alata L.). Komoditas lokal ini dianggap adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Keunggulan utamanya: budidaya uwi ungu tidak bergantung pada pupuk kimia impor yang harganya melonjak.
Riset akademik dari Universitas Hasanuddin dan Universitas Diponegoro membuktikan keunggulan nutrisi beras analog uwi ungu. Komoditas ini memiliki kadar air stabil antara 7,08 hingga 9,06 persen, kandungan protein mencapai 11,34 persen, serta tingkat antosianin yang tinggi, yaitu 12,31 CyE/g.
Kandungan antosianin menjadikannya pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan. Para peneliti menilai transisi menuju pangan berbasis umbi-umbian lokal menjadi langkah rasional untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.***





Tinggalkan Balasan