“Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, ‘Soekarno Huwa Waliyyul Amri Adl-Dloruri Bisy Syaukah (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat).'”

Keputusan ini langsung menyatukan pandangan ulama besar lainnya seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Bisri Syansuri. Gelar ini bukan sekadar legitimasi politik semata, melainkan sikap tegas mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pengasuh PP. Al-Anwar Sarang, KH. Muhammad Najih MZ, menegaskan makna di balik fatwa tersebut. “Dengan gelar Soekarno Huwa Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah, sikap Mbah Baidlowi adalah menentang atau tidak setuju dengan adanya DI/TII, walaupun mereka menegakkan syari’at Islam di NKRI,” ungkapnya.

Ketawadukan Sang Mursyid Tarekat

Meskipun memegang peran kunci dalam sejarah bangsa, KH. Baidlowi tetap membumi dan menjauhi popularitas. Ia menjabat sebagai Rais Akbar pertama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATM) dan menguasai 27 aliran thariqah, termasuk Syatariyyah.

Cucunya, KH. Abdul Aziz, yang juga Pengasuh PP. Roudlotul Muhibbin Lasem, mengakui sifat rendah hati sang kakek. “Sebenarnya saya berat untuk menceritakan beliau karena beliau sosok yang tidak ingin dikenal atau terkenal, padahal beliau menjabat sebagai Rais ‘Aam JATM,” tuturnya.

Keikhlasan ini menjadi ciri khas dakwahnya. Pengasuh PP. An-Nur Lasem, KH. Abdul Qoyyum Manshur, memuji kepribadian sang tokoh. “Mbah Baidlowi ini terkenal dengan seorang faqih dan ahli syariah yang muhlish. Keikhlasan beliau ini ditunjukkan dengan perjalanan hidup dan interaksinya, baik vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia,” jelas Kiai Qoyyum.

Mendorong Gelar Pahlawan Nasional

Masyarakat kini mulai merawat ingatan tentang jasa besar KH. Baidlowi. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang gencar mengadakan bedah buku biografinya karya K. Amirul Ulum untuk memperkuat literasi lokal.

Kepala Dinarpus Rembang, Achmad Solchan, menyatakan komitmennya. “Perpustakaan daerah tidak hanya mengoleksi buku, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran tokoh-tokoh yang pernah memberi warna bagi sejarah Rembang dan Indonesia,” ujarnya. Momentum bedah buku ini sekaligus menjadi langkah awal diskursus publik untuk mengusulkan KH. Baidlowi sebagai Pahlawan Nasional.